16 Kelompok Teater PBSI UPGRIS Pentas Akhir Tahun

Seni teater atau drama merupakan salah satu tangkai seni yang sangat kompleks. Di antaranya seni musik, seni rupa, seni kostum, seni teks, serta seni tari. Tidak dapat dipungkiri sebuah proses teater butuh kerjasama serta kolaborasi yang matang. Proses pemilihan naskah hingga pemain tidak serta merta dilakukan oleh seorang diri. Butuh kerjasama hingga menafsirkan naskah untuk memanggungkan di hadapan para penonton. Waktu yang dibutuhkan dalam berprosespun tidak sedikit. Ada banyak argumen yang berbeda dari masing-masing kelompok pementasan teater. Pementasan teater dimulai (7-19/12). Konsep pementasan ada dalam bentuk monolog serta kolosal.

Mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) unjuk kebolehan melalui pentas teater. Lewat mata kuliah kajian drama di semester lima mahasiswa PBSI UPGRIS pentas dengan naskah yang berbeda. Bukan kali ini saja sejak kali pertama mata kuliah prosa Fiksi drama (PFD) sudah di pentaskan di kampus. Beberapa kelompok teater dari prodi PBSI UPGRIS diantaranya teater nyamplik, samin, pantura, sambung, senja kala, diksi,serta semen. Dosen pengampu mata kuliah kajian drama Drs Murrywantobroto dan Dra Ambarani A MHum.

Drs Murrywantobroto MHum menyampaikan salah satu tujuan dari pemetasan teater di beberapa sekolah di Pekalongan, Pati, Brebes, Jepara, Demak, Semarang, Cepu, serta Kendal. “Proses latihan yang panjang mengahasilkan pementasan yang sangat baik. Banyak pengalaman yang didapat diantara mengasah mental para mahasiswa dihadapan para penonton yang beragam,”imbuh Murrywantobroto.

Salah satu naskah teater yang dipentaskan berjudul “Sukar” yang terinspirasi dari lagu “Berhenti Berharap” karya Sheila On 7.”  Mengisahkan tentang kehidupan seorang mantan tentara yang kini meghabiskan masa tuanya di kampung kecil di pinggiran ibu kota. Sudarto yang memiliki jiwa nasionalis kuat harus kehilangan profesinya karena dianggap  sebagai penghjinat negara. Ayah dari dua anak ini dibebas tugaskan kerana menembak seorang warga asing yang dianggapnya sebagai mata-mata. Sehingga kehidupanya berbah sangat drastis.

Lain halnya, dengan Pementasan monolog dengan naskah Mariden ini, diperankan oleh Yoga Robhet Yulianto, di SMA N 3 Brebes. Naskah Mariden tersebut merupakan karya dari Yoga Robhet Yulianto yang dibukukan dengan judul Mariden dan 36 monolog lainnya. Yoga sendiri mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pementasan tersebut tidak sendirian, terdapat delapan temannya yang dijadikan satu kelompok bernama Teater Berhias. Proses latihan sudah pasti dilakukan Yoga, kurang lebih dua bulan dia berlatih dibantu dengan teman satu kelompoknya.

Setelah pementasan selesai, terdapat sesi tanya jawab oleh siswa SMA N 3 Brebes kepada pemeran, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi pementasan bersama, Yoga sendiri merasa kurang puas, merasa kurang maksimal dan dia ingin pementasan dilakukan lagi, hingga akhirnya dia berlatih dan berlatih lagi. Yoga mendapat kabar jika nanti dia akan pentas lagi di SMA N 3 Demak, bergabung dengan kelompok teater Diksi dari kelas 5C PBSI UPGRIS.

Yoga dan teman-teman teater Berhias berangkat dari kampus 4 UPGRIS menuju SMA N 3 Demak pukul 14.00 WIB. Kemudian sampai di tempat pentas Yoga dan teman-temannya bergegas untuk memasang peralatan yang digunakan untuk pentas nantinya. Terdapat dua pementasan di SMA N 3 Demak, yaitu Lorong Waktu, karya Atrivika yang diperankan oleh Anita Indah dan Mariden karya Yoga Robhet Yulianto yang diperankan oleh Yoga Robhet Yulianto juga. Benar saja, penonton dari siswa itu sendiri sangat antusias ingin menyaksikan pementasan monolog, ruang aula tempat pementasan berlangsung sudah penuh dalam waktu 5 menit setelah pintu masuk dibuka. Saat itu Yoga menunggu giliran pentas, dia pentas setelah pementasan pertama selesai, tepatnya pukul 09.20 WIB, giliran Yoga yang pentas. Dia memainkan peran dengan menikmati, dan pesan dan makna naskah disampaikan secara maksimal dengan rasa, gestur, dan ekspresi dia. Ya, naskah mariden memang berusaha memperlihatkan ketidakadilan di negeri ini dan juga oknum pejabat yang menyalah gunakan jabatannya.

Setelah acara pementasan selesai dilakukan evaluasi bersama oleh pak Murryawantobroto selaku dosen pengampu mata kuliah drama kelas 5C PBSI, UPGRIS. Yoga sangat senang, karena banyak masukan ketika evaluasi walau pun itu bukan ditujukan kepadanya, namun untuk ke dua kelompok tersebut, mengenai kekompakan yang kurang. Menurut Yoga, kritik dan saran dianggap sebagai madu, dan pujian sebagai racun. Itu dia pegang dan sebagai pedoman setelah mendapatkannya dari Mbah Alfi selaku teaterawan juga.

Sekarang Yoga mencoba beralih untuk berekspresi melalui karya sastra tulis, setelah dia menciptakan sebuah karya tulis yaitu naskah monolog, dia tertantang lagi untuk menulis karya-karya sastra lainnya. Ya, dengan bermodalkan pedoman menulis dari Sastrawan hebat, ya, Setia Naka Andrian. Yoga mengidolakan beliau, pedoman menulis yang diperolehnya dari beliau ialah “tulislah apa yang kamu lihat, jangan tulis apa yang kamu pikirkan” dan Yoga mulai mencobanya.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply