Mahasiswa KKN UPGRIS dan Warga Bangkitkan Kembali Taman TOGA Setelah Sempat Hilang Diterjang Banjir

Taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di RW 5 Kelurahan Kaligawe, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang kembali direvitalisasi setelah sebelumnya hilang akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada Oktober 2025. Revitalisasi ini dilaksanakan pada awal Februari 2026 melalui kolaborasi antara warga setempat dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas PGRI Semarang. Program ini bertujuan mengembalikan fungsi taman sebagai sarana edukasi, kesehatan, dan ruang interaksi sosial bagi masyarakat.

Sebelumnya, Taman TOGA menjadi salah satu ruang terbuka hijau yang dimanfaatkan warga untuk menanam berbagai jenis tanaman obat seperti jahe, kunyit, temulawak, serai, dan daun sirih. Selain berfungsi sebagai sumber tanaman herbal, taman tersebut juga menjadi ruang interaksi sosial dan sarana edukasi bagi anak-anak tentang pentingnya pelestarian tanaman obat tradisional. Namun, banjir bandang yang terjadi akibat curah hujan tinggi menyebabkan seluruh area taman tertutup lumpur dan sebagian besar tanaman rusak serta hanyut terbawa arus.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN dari Universitas PGRI Semarang yang ditempatkan di wilayah itu berinisiatif mengajak warga melakukan revitalisasi taman. Program ini menjadi salah satu agenda utama KKN karena dinilai memiliki dampak sosial, kesehatan, dan lingkungan yang signifikan. Bersama warga, para mahasiswa melakukan pembersihan lahan, pengangkatan sisa lumpur, serta perencanaan ulang tata letak taman agar lebih tahan terhadap potensi banjir di masa mendatang.

Proses revitalisasi dilakukan secara bertahap selama kurang lebih satu bulan. Warga bergotong royong membersihkan area taman setiap akhir pekan, sementara mahasiswa KKN membantu dalam penyusunan konsep desain taman yang lebih sistematis. Mereka juga menambahkan sistem drainase sederhana untuk meminimalkan genangan air serta meninggikan beberapa bedeng tanaman agar tidak mudah rusak saat hujan deras.

Salah seorang warga setempat, Siti Rahma (45), mengungkapkan rasa syukurnya atas kembalinya taman TOGA tersebut. “Kami sempat merasa sedih karena taman ini hilang begitu saja setelah banjir. Padahal, banyak warga yang memanfaatkan tanaman di sini untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya mahasiswa KKN yang membantu, kami jadi lebih semangat untuk membangun kembali,” ujarnya saat ditemui di lokasi taman, Selasa (11/2).

Menurut Siti, keberadaan taman TOGA tidak hanya penting dari sisi kesehatan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga. Ia menambahkan bahwa selama proses revitalisasi, komunikasi dan kerja sama antarwarga semakin terjalin erat. “Kami bekerja bersama, mulai dari membersihkan lumpur hingga menanam kembali bibit. Rasanya seperti membangun harapan baru setelah musibah,” katanya.

Sementara itu, Koordinator KKN, Pongky Melia Utarya Agung, menjelaskan bahwa program revitalisasi ini dirancang dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan. “Kami tidak hanya menanam kembali tanaman yang sebelumnya ada, tetapi juga menambahkan beberapa jenis tanaman obat yang lebih adaptif terhadap kondisi tanah pascabanjir. Selain itu, kami membuat papan informasi agar taman ini juga bisa menjadi sarana edukasi,” jelasnya.

Pongky menuturkan bahwa keterlibatan aktif warga menjadi kunci utama keberhasilan program tersebut. Ia menyebutkan bahwa mahasiswa hanya berperan sebagai fasilitator dan pendamping. “Kami belajar banyak dari warga tentang semangat gotong royong. Tanpa partisipasi mereka, revitalisasi ini tidak mungkin berjalan lancar,” tambahnya.

Kini, Taman TOGA yang telah direvitalisasi tampak lebih rapi dengan pembagian zona tanaman yang jelas serta jalur setapak yang memudahkan pengunjung berkeliling.Revitalisasi Taman TOGA ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara masyarakat dan mahasiswa dapat menghadirkan perubahan positif bagi lingkungan sekitar. Setelah sempat hilang diterjang banjir, taman tersebut kini bangkit kembali sebagai simbol ketangguhan dan kebersamaan warga. Ke depan, warga berharap taman ini dapat terus dirawat bersama agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi berikutnya.(*)