Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 13 Dorong Kemandirian Lingkungan di Desa Kawengen

Isu pengelolaan limbah rumah tangga hingga saat ini masih menjadi persoalan yang signifikan di berbagai daerah, termasuk juga di pedesaan yang tengah mengalami peningkatan jumlah penduduk. Merespons situasi ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) meluncurkan sebuah inisiatif perubahan melalui program edukasi pemisahan sampah yang ditujukan kepada garda terdepan keluarga, yaitu para ibu.

Acara yang dilaksanakan pada hari Jumat, 6 Februari 2026 ini, berlokasi di rumah salah satu warga di RW 3 Dusun Selelu, Desa Kawengen, Kabupaten Semarang. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya memilah limbah rumah tangga sejak dari asalnya agar dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dalam sosialisasi yang dihadiri oleh puluhan anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), para mahasiswa KKN memberikan penjelasan teknis yang terstruktur namun mudah dipahami. Mereka menekankan bahwa pengelolaan lingkungan yang baik harus dimulai dari dapur rumah tangga.

Salah satu aspek penting yang ditekankan dalam pendidikan ini adalah potensi ekonomi yang terdapat di balik tumpukan sampah. Mahasiswa menjelaskan bahwa dengan pemilahan yang baik, sampah tidak lagi dipandang sebagai kotoran, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah bukan hanya dibuang, tetapi harus dikelola dengan baik,” kata Nilwa, perwakilan mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 13. Ia menambahkan bahwa bila pemilahan dilakukan secara tepat, lingkungan di Dusun Selelu akan jauh lebih bersih dan sehat karena sirkulasi udara dan kebersihan tanah dapat terjaga.

Secara teknis, sampah anorganik seperti botol plastik dan kertas dapat dikumpulkan secara bersama-sama untuk kemudian disetorkan ke bank sampah di daerah tersebut. Langkah ini tidak hanya membantu merapikan rumah, tetapi juga bisa memberi tambahan penghasilan bagi para ibu rumah tangga. Sementara itu, untuk sampah organik, warga diajak untuk mengolahnya menjadi pupuk kompos yang bisa menyuburkan tanaman di halaman, sehingga tercipta kemandirian pangan dalam skala kecil.

Antusiasme warga terlihat jelas melalui sesi tanya jawab yang interaktif antara anggota PKK dan mahasiswa. Pengurus PKK dan tokoh masyarakat setempat menyambut baik inisiatif ini karena selama ini warga sering mencampurkan semua jenis sampah ke dalam satu kantong plastik sebelum membuangnya.

Sulistiyani, selaku Ketua RT 3 RW 3 Dusun Selelu, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas partisipasi mahasiswa UPGRIS. Menurutnya, edukasi teknis seperti ini sangat penting untuk memotivasi warga yang sebelumnya mungkin sudah tahu tentang pemilahan namun belum berkomitmen untuk melakukannya dengan konsisten.

“Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada sosialisasi, tetapi benar-benar menjadi budaya dan kebiasaan baru di lingkungan RW 3,” ungkap Sulistiyani. Dengan adanya program KKN ini, diharapkan Desa Kawengen bisa menjadi contoh bagi desa lainnya dalam hal pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.(*)