Mahasiswa Indonesia dari Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil menyelenggarakan kegiatan sosialisasi pencegahan bullying (perundungan) di Songsermsasana School, Hatyai, Thailand Selatan. Kegiatan edukatif ini dilaksanakan pada Selasa, 21 Januari 2026, dan diikuti dengan antusias oleh para siswa kelas 3 sekolah setempat.
Kegiatan ini bertajuk “Sosialisasi Anti-Bullying: Fight to Bullying”. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran, serta kepekaan siswa mengenai fenomena bullying beserta dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkannya.
Dalam era globalisasi, perundungan tidak hanya terjadi secara fisik tetapi juga melalui dunia digital (cyber bullying), sehingga membekali generasi muda dengan pengetahuan untuk mencegahnya menjadi hal yang mendesak. Program ini juga selaras dengan misi KKN untuk memberikan kontribusi nyata di bidang pendidikan karakter pada komunitas global.
Kegiatan ini melibatkan dua pihak utama. Pertama, tim pelaksana yang terdiri dari mahasiswa KKN dari UPGRIS dan UIN Maliki Malang. Kedua, peserta yang adalah seluruh siswa kelas 3 Songsermsasana School. Sosialisasi ini difasilitasi dengan metode partisipatif, memungkinkan interaksi dua arah yang dinamis antara fasilitator dan peserta.
Lokasi kegiatan berlangsung di dalam ruang kelas Mathayom 3 Songsermsasana School, sebuah institusi pendidikan yang terletak di Kota Hatyai, Thailand Selatan. Pemilihan lokasi sekolah sebagai titik intervensi didasari pada pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman sejak dini.
Kegiatan ini dilaksanakan tepat pada hari Selasa, 21 Januari 2026, selama jam sekolah. Alokasi waktu mencakup penyampaian materi, sesi diskusi kelompok, dan presentasi, yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam.
Pelaksanaan kegiatan dirancang dengan pendekatan interaktif dan adaptif, mengingat adanya tantangan perbedaan bahasa. Pertama, materi disampaikan dalam bahasa Inggris oleh mahasiswa KKN. Materi mencakup: pengertian dan bentuk-bentuk bullying (verbal, fisik, sosial, dan cyber), dampaknya terhadap korban, cara mengidentifikasi tanda-tanda, serta strategi pencegahan dan respons yang tepat.
Kedua, untuk memastikan pemahaman yang menyeluruh, Mahasiswa KKN juga telah menyiapkan materi dalam bentuk Bahasa Tailan, kemudian dipilih salah satu siswa untuk membacakan poin-poin kunci tersebut secara real-time kepada rekan-rekannya. Ketiga, untuk memperdalam pemahaman, diadakan sesi diskusi kelompok.
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dan diberikan studi kasus atau pertanyaan terkait materi. Mereka berdiskusi untuk menganalisis masalah dan mencari solusi, kemudian mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Metode ini terbukti efektif dalam membangun pemahaman konseptual sekaligus keterampilan berpikir kritis dan kerja sama.
Kegiatan ini mendapat respons yang sangat positif dan meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Dua siswa, Anon dan Affan, secara spontan menyampaikan tanggapan mereka. Anon, salah seorang peserta, mengungkapkan kekagumannya terhadap kegiatan ini.
“Saya sangat terkesan dengan acara ini karena memperoleh pengetahuan dan pemahaman mendalam tentang dampak perundungan, baik bagi korban maupun masyarakat luas. Penyajian materi yang menarik dan mudah dipahami sangat membantu saya semakin sadar akan pentingnya menghormati hak serta perasaan orang lain,” ucap Anon.
“Setelah mengikuti kegiatan ini, saya berharap dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam keseharian, mengurangi perilaku perundungan, serta bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman, bersahabat, dan penuh rasa hormat di sekolah maupun masyarakat.”
Sementara itu, Affan, peserta lain, memberikan tanggapan yang mencerminkan sisi metodologi pembelajaran. “Saya sangat menikmati cara pengajaran Anda. Materinya tidak membosankan dan unik, benar-benar sesuatu yang baru. Saya terkesan dengan kesabaran guru (fasilitator) yang mengajari kami tanpa emosi, meskipun kami terkadang ramai, banyak bicara, atau kurang serius.”
Mengenai harapan ke depan, Affan menambahkan, “Setelah kegiatan ini, saya berharap teman-teman dapat lebih menghargai pembelajaran dari guru dan membawa contoh-contoh baik ini untuk diterapkan dalam kehidupan sosial kita.”
Kegiatan sosialisasi anti-bullying ini tidak hanya berhasil mentransfer pengetahuan tetapi juga menanamkan nilai-nilai empati, respek, dan tanggung jawab sosial di kalangan siswa Songsermsasana School. Melalui pendekatan yang kreatif, adaptif, dan penuh kesabaran, tim KKN UPGRIS dan UIN Maliki Malang telah memberikan kontribusi nyata dalam upaya global menciptakan school climate (iklim sekolah) yang lebih positif dan inklusif.
Diharapkan, benih kesadaran yang telah ditanamkan akan terus tumbuh, mendorong para siswa untuk menjadi agen perubahan yang aktif mencegah bullying di lingkungan mereka masing-masing.(*)

