Mandarin Hour UPGRIS, Siap Hadapi Peluang Kerja Global

Perusahaan Cina yang menanamkan modal melalui perusahaan di Indonesia jumlahnya kian melimpah. Dari tahun ke tahun, trennya kian positif. SW Indonesia mencatat, ada lonjakan jumlah modal senilai USD 7,46 miliar. Fakta tersebut otomatis berdampak pada peluang kerja di perusahaan milik Cina tersebut. Tenaga kerja yang mampu berbahasa Cina atau Mandarin dengan begitu punya peluang besar untuk terserap ke sana.

“Peluang mahasiswa UPGRIS untuk magang industri di kawasan dengan investasi dari Cina semakin meningkat. Pun demikian dengan minat mahasiswa untuk magang di negara berbahasa Mandarin seperti di Taiwan. Atas dasar itulah kami membuka program Mandarin Hour tersebut,” ucap Kepala Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) UPGRIS, Dr. Ir. Perdana Afif Luthfi, M.T., saat membuka acara Mandarin Hour  yang diselenggarakan di Gedung Utama lantai 3, pada 11 Maret 2026. Pengisi program ini adalah Dr. Neni Kurniawati, S.S., M.Hum., seorang instruktur bahasa Mandarin yang juga seorang praktisi perhotelan.

Menurutnya, bahasa kedua yang sekarang saat diperlukan di dunia internasional adalah bahasa Mandarin. Minimal dengan adanya program ini, mahasiswa bisa melakukan komunikasi dasar dengan berbahasa Mandarin. “Ini sudah masuk pertemuan ke-4. Tadinya pelatihan secara daring kemudian sekarang lewat luring. Materinya basic conversation. Mahasiswa bisa komunikasi tingkat dasar. Tapi paling tidak bisa terbiasa dengan bahasa Mandarin.”

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bagian Sertifikasi Bahasa LSP, Dr. Sukma Nur Ardini, S.S., M.Pd., menyebut pihak kampus sangat mendukung dan memfasilitasi mahasiswa yang berminat magang di perusahaan Cina.”Karena di Pusat Karir UPGRIS mahasiswa difasilitasi untuk magang di perusahaan Cina, juga program student exchange ke Taiwan, maka program ini sangat relevan untuk mereka.

Ditambahkan, program ini sudah berjalan selama empat kali pertemuan. Menurutnya peminatnya cukup tinggi. “Dari awal digelar antusiasme peserta cukup tinggi. Ada alumni yang tertariki, bahkan tendik hingga dosen.” Peserta akan mengikuti program hingga 10 kali pertemuan dan akan mengikuti tes level kemudian yang lolos akan mendapatkan sertifikat berjenjang sampai kemudian bisa memanfaatkan bahasa tersebut untuk keperluan yang diperlukan.

Sindiana Sintya Bella, seorang mahasiswa peserta program tersebut, mengaku sangat terbantu dengan program Mandarin Hour tersebut. Ia mengaku tenag mempersiapkan diri untuk mengikuti program magang di Taiwan. “Saya ikut program ini karena sedang persiapan ke Taiwan untuk magang. Jadi bisa lebih mudah belajar bahasa Mandarin,” ucapnya. (*)