Riset ibarat salah satu tiang dunia akademik di sebuah perguruan tinggi. Mengajukan proposal pendanaan riset dengan demikian menjadi semakin penting guna membuka peluang penelitian serta menghasilkan out put artikel ilmiah di jurnal bereputasi.
Hibah Riset dan Inovasi Indonesia Maju (RIIM) yang disediakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) termasuk penyedia pembiayaan riset berskala besar. Namun, untuk bisa tembus program tersebut sangatlah tidak mudah. Diperlukan berbagai persiapan, mulai dari pengajuan proposal, penelitian, hingga out put penulisan artikel ilmiah.
Atas dasar itulah pihak Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) bekerja sama dengan S7L Spesial Komunitas Sinergi Memetik Mimpi menyelenggarakan Workshop Penyusunan Proposal Hibah RIIM Nasional dan Internasional BRIN Tahun 2026 yang digelar di Gedung Pusat lantai 2 pada 14 – 15 Maret 2026.
Pembicara yang dihadirkan ialah Prof. Dr. Suwardi Endrasrawara, M.Hum., dari Universitas Yogyakarta, sekaligus pemapar best practices lolos hibah BRIN, dan Dr. Drs. Agung Pramujiono, M.Pd., dosen dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya sekaligus penggagas Komunitas Sinergi Memetik Mimpi.
“Untuk menembus program RIIM tersebut, pastikan para peneliti memahami seluruh persyaratan administratif, baik proposal maupun keperluan administrasi lainnya,” ungkap Prof. Dr. Suwardi Endrasrawara, M.Hum.
Menurutnya, sebelum memutuskan ikut mengajukan proposal, dosen harus membaca secara menyeluruh pedoman Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju. Harus jelas fokus riset yang akan diambil serta keterkaitannya dengan topik yang telah ditetapkan oleh penyelenggara.
“Yang sangat diutamakan adalah fokus riset. Penting bagi peneliti untuk menentukan fokus sesuai panduan yang dianjurkan. Selain itu juga harus memahami sepenuhnya administrasi yang harus dilengkapi, mulai dari RAB hingga pembagian tugas dalam tim. Hal-hal teknis justru lebih banyak menentukan nasib proposal sebelum masuk ke urusan substansi,” ujarnya.
Menurutnya, jika semua syarat sudah dibaca dan dilengkapi, serta proposal dinyatakan lolos, barulah peneliti dapat mulai fokus pada luaran, misalnya karya tulis ilmiah, hak kekayaan intelektual, serta artikel yang dipublikasikan di jurnal bereputasi.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Drs. Agung Pramujiono, M.Pd., mengemukakan pentingnya para dosen fokus mempublikasikan artikel di jurnal bereputasi. Menurutnya, selama ini ada stigma mengenai masa tunggu jurnal Q1 yang dianggap lama sehingga kerap membuat dosen harus menunggu cukup panjang untuk dapat memenuhi syarat menjadi guru besar.
“Melalui komunitas Sinergi Memetik Mimpi ini, kami mengagendakan latihan bersama dalam program pelatihan menulis proposal penelitian, salah satunya untuk pengajuan ke BRIN. Di BRIN peluangnya sangat besar, termasuk kerja sama dengan kampus luar negeri. Jadi, para dosen harus fokus menulis dan menyusun proposal agar dapat segera tembus,” ucapnya.
Komunitas tersebut beranggotakan para dosen dari berbagai universitas swasta maupun negeri yang memiliki kesamaan fokus, yaitu memublikasikan artikel ilmiah di jurnal bereputasi Q1. Dosen yang tergabung dalam komunitas tersebut berasal dari 43 perguruan tinggi. Mereka bersama-sama berikhtiar menulis proposal penelitian.
Dalam paparannya, Agung Pramujiono secara langsung mengajak peserta untuk mengkaji berbagai skema hibah BRIN tahun 2026, sekaligus memandu para peserta agar siap men-submit artikel ke jurnal ilmiah tersebut.
Selain kedua pembicara tersebut, dijadwalkan pula perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Pusat, yaitu Dr. Herie Saksono, M.M., yang akan mengisi materi “Kiat Sukses Tembus RIIM Nasional dan Internasional BRIN 2026”.
Peserta pelatihan ini tidak hanya berasal dari dosen-dosen di UPGRIS, melainkan juga dosen peserta Komunitas Sinergi Memetik Mimpi yang hadir secara daring, di antaranya Universitas Adi Buana Surabaya, Universitas Negeri Yogyakarta, FKIP Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Muhammadiyah Surabaya, dsb. (*)

