Tingkatkan Kualitas Layanan Posyandu, Mahasiswa KKN UPGRIS Salurkan Alat Kesehatan di Bangetayu Wetan

Kelurahan Bangetayu Wetan kini memiliki amunisi baru dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) secara resmi menyalurkan bantuan alat kesehatan berupa tensimeter digital dan timbangan bayi modern untuk Posyandu di wilayah RW 04 dan RW 07, pada 10 Februari 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata mahasiswa dalam mendukung program kesehatan nasional yang dimulai dari unit terkecil, yaitu lingkungan RW.

Program penyaluran alat kesehatan ini bukan sekadar bantuan seremonial, melainkan hasil dari pemetaan masalah yang dilakukan secara mendalam. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan diskusi bersama para kader kesehatan, tim KKN UPGRIS menemukan adanya kendala teknis pada beberapa alat pemeriksaan yang sudah termakan usia. Hal ini seringkali menghambat efektivitas layanan rutin bulanan yang sangat krusial bagi tumbuh kembang anak dan pemantauan kesehatan lansia.

Ketua KKN Kelompok 1 UPGRIS, Firdhi Al Ridho Junior, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan wujud kepedulian mahasiswa terhadap derajat kesehatan warga Bangetayu Wetan. “Kami mengamati bahwa antusiasme warga untuk datang ke Posyandu sangat tinggi, namun fasilitas pendukungnya perlu diperbarui. Alat seperti tensimeter dan timbangan bayi adalah instrumen dasar namun vital. Jika alatnya tidak akurat atau rusak, maka data kesehatan warga tidak terdokumentasi dengan baik. Itulah mengapa kami memprioritaskan pengadaan alat ini,” jelas Firdhi.

Momentum penyaluran pertama dilaksanakan di RW 07 pada tanggal 19 Januari 2026, bertepatan dengan jadwal rutin Posyandu balita. Kehadiran mahasiswa KKN disambut hangat oleh para kader dan ibu-ibu yang membawa balitanya. Di lokasi ini, bantuan difokuskan pada pengadaan timbangan bayi digital.

Selama ini, Posyandu RW 07 menghadapi tantangan besar karena timbangan lama mereka sudah tidak berfungsi optimal. Padahal, akurasi berat badan adalah indikator utama dalam mendeteksi stunting atau masalah gizi pada balita. Mahasiswa KKN tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga turun tangan membantu proses pengukuran berat badan, tinggi badan, hingga pendataan administrasi peserta.

Ibu Hartati, Ketua Posyandu RW 07, mengungkapkan rasa lega dan syukurnya atas bantuan ini. Beliau menjelaskan bahwa meskipun pengajuan bantuan alat sudah dilakukan ke tingkat pemerintah melalui Puskesmas, namun realisasi anggaran baru diprediksi cair pada akhir tahun 2026.

“Bantuan dari adik-adik mahasiswa UPGRIS ini datang di waktu yang sangat tepat. Timbangan kami yang lama memang sudah rusak, dan menunggu bantuan pemerintah butuh waktu lama karena prosedur anggaran. Dengan adanya timbangan baru ini, pelayanan kami menjadi jauh lebih cepat, efektif, dan yang terpenting datanya akurat,” ungkap Ibu Hartati.

Tak berhenti di RW 07, estafet kepedulian berlanjut ke RW 04 pada tanggal 7 Februari 2026. Di wilayah ini, mahasiswa KKN UPGRIS menyalurkan tensimeter digital yang diterima langsung oleh Ibu Imronah, salah satu kader senior di Posyandu setempat.

Alat ini diharapkan mampu mempermudah skrining kesehatan rutin bagi warga, terutama golongan lansia yang membutuhkan pemantauan tekanan darah secara berkala guna mencegah penyakit degeneratif seperti hipertensi dan stroke. Penggunaan teknologi digital dipilih agar para kader dapat mengoperasikan alat dengan lebih mudah dan cepat dibandingkan tensimeter manual.

Ibu Imronah pun tak kuasa menyembunyikan rasa terima kasihnya. “Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Pemeriksaan tensi adalah layanan yang paling dicari warga saat Posyandu. Sekarang, dengan alat digital yang baru, pemeriksaan bisa dilakukan lebih praktis dan hasilnya lebih mudah dibaca oleh warga lansia sekalipun,” tuturnya.

Melalui program ini, KKN Kelompok 1 UPGRIS berharap dapat meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Bangetayu Wetan. Keberadaan alat kesehatan yang memadai diharapkan mampu memicu kesadaran masyarakat untuk lebih rajin mengunjungi Posyandu secara rutin.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) juga senantiasa menekankan bahwa esensi KKN adalah menjadi jembatan solusi bagi permasalahan di masyarakat. Penyaluran alat kesehatan ini merupakan bukti bahwa mahasiswa mampu menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi aksi nyata yang menyentuh langsung kebutuhan dasar warga.

Dengan berakhirnya program penyaluran ini, diharapkan sinergi antara akademisi dan masyarakat tidak berhenti sampai di sini, melainkan terus tumbuh melalui berbagai inovasi kesehatan lainnya di masa depan demi mewujudkan Bangetayu Wetan yang lebih sehat dan sejahtera.(*)