Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) menurunkan sebanyak 1.266 mahasiswa untuk mengikuti program magang pendidikan di 110 sekolah yang tersebar di kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Program tersebut akan berlangsung selama tiga bulan, mulai 21 Januari hingga April 2026. Ketua Pusat Karir PPL dan Pemagangan, Lembaga Pengembangan Profesi UPGRIS, Dr. Prasetyo, M.Pd., mengatakan para mahasiswa akan dibimbing oleh 108 dosen pembimbing magang (DPM) selama menjalani magang di sekolah-sekolah tujuan.
“Untuk dosen pembimbing magang ada 108 dosen. Mereka akan membimbing 1.266 mahasiswa yang ditempatkan di 110 sekolah di kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah,” kata dia disela-sela kegiatan Penyegaran Dosen Pembimbing Magang, Magang Kependidikan Tahun Akademik 2025/2026, Senin 12 Januari 2026.
Ia menjelaskan, isu perubahan iklim sengaja diangkat dalam program magang tersebut. Hal ini selaras dengan kerja sama UPGRIS bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Dikti Saintek).
Khususnya pada Indikator Kinerja Utama (IKU) 7 dan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-13 tentang penanganan perubahan iklim. Menurut dia, jumlah mahasiswa yang besar menjadi potensi strategis untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan di lingkungan sekolah.
Mahasiswa diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai perubahan iklim kepada peserta didik dari berbagai jenjang, mulai PAUD hingga SMA/SMK. “Ini bukan hanya kewajiban orang-orang yang berkecimpung di bidang lingkungan, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat, termasuk melalui pendidikan sejak dini,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UPGRIS Dr. Sri Suciati, M.Hum., menegaskan bahwa isu perubahan iklim harus menjadi perhatian dunia pendidikan. Ia mengingatkan kualitas lingkungan yang ada saat ini akan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Perubahan iklim harus menjadi perhatian dunia, termasuk dunia pendidikan. Kita khawatir keberlanjutan dunia yang akan kita wariskan kepada anak cucu kualitasnya semakin berkurang,” imbuhnya.
Ia juga berpesan kepada para DPM agar membimbing mahasiswa dengan mengaitkan materi pembelajaran dengan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kebiasaan menggunakan tumbler untuk mengurangi plastik sekali pakai, membuang sampah pada tempatnya, hingga membiasakan pola hidup sehat.
“Kebiasaan baik memang harus dipaksakan di awal. Kalau sudah terbiasa, itu akan menjadi kebiasaan yang baik bagi anak-anak,” pungkasnya.(*)

