Kepedulian mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) terhadap lingkungan sekitar ternyata melahirkan gerakan yang keren. Lewat program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), mereka menginisiasi penguatan konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMA Lab UPGRIS.
Ide ini muncul bukan tanpa alasan. Mahasiswa PPL melihat langsung bahwa lingkungan sekitar sekolah punya potensi bencana yang cukup tinggi. Dari situlah muncul gagasan agar sekolah tidak hanya jadi tempat belajar. Tapi juga tempat yang siap menghadapi situasi darurat.
Rektor UPGRIS, Dr. Sri Suciati, M.Hum., menyebut inisiatif ini sebagai langkah nyata dari mahasiswa yang peka terhadap kondisi sekitar. “Ini murni dari inisiatif mahasiswa PPL. Mereka melihat risiko bencana dan langsung bergerak membuat konsep sekolah aman bencana,” ujarnya.
Untuk mewujudkan itu, UPGRIS juga menggandeng BPBD Jawa Tengah. Kolaborasi ini diwujudkan lewat berbagai simulasi. Mulai dari mitigasi hingga penanganan saat bencana terjadi. Para instruktur langsung didatangkan dari BPBD. Pelatihannya tidak sekadar teori, tapi juga praktik nyata.
Tujuan utamanya jelas. Semua warga sekolah, baik siswa maupun guru, punya bekal pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana. Mulai dari kebakaran, banjir, longsor, gempa, sampai erupsi gunung berapi. Menurut Rektor, simulasi seperti ini penting banget. Selain melatih respon cepat, juga bisa mengurangi kepanikan saat kondisi darurat benar-benar terjadi. Karena saat panik, orang cenderung sulit berpikir jernih.
Simulasi juga tidak cukup dilakukan sekali saja. Idealnya, kegiatan ini rutin digelar setiap tahun. Apalagi untuk membekali siswa baru agar semuanya punya pemahaman yang sama soal langkah-langkah penyelamatan diri.
Dari sisi kesiapan, BPBD juga punya standar menarik. Dalam kondisi darurat, individu diharapkan bisa bertahan selama tiga hari, eluarga hingga 10 hari, dan lingkungan sekolah bahkan sampai 20 hari. Artinya, kesiapsiagaan memang harus direncanakan dengan matang.
Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas C. Penanggungan, menilai program ini sebagai langkah strategis. Menurutnya, sekolah ke depan tidak boleh lagi hanya jadi korban saat bencana terjadi.
“Harapannya, sekolah bisa jadi pelaku utama dalam penanganan bencana, bukan sekadar objek,” katanya. Dengan langkah ini, SMA Lab UPGRIS diharapkan bisa jadi contoh bagi sekolah lain. Bukan cuma aman, tapi juga siap dan tangguh menghadapi berbagai kemungkinan bencana. (*)

