Langkah Strategis UPGRIS Perkuat LSP dan Perluas Skema Sertifikasi Mahasiswa

Untuk mahasiswa dan calon lulusan Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS), kabar ini jelas jadi angin segar. Kampus terus memperkuat bekal mahasiswa sebelum terjun ke dunia kerja lewat penguatan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Salah satunya dengan menghadirkan 59 dosen yang kini sudah bersertifikat sebagai asesor dan instruktur dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Artinya apa? Peluang untuk punya sertifikat kompetensi yang diakui secara nasional makin terbuka lebar. Dan ini bukan sekadar formalitas. Sertifikat ini bisa jadi “nilai plus” saat kalian bersaing di dunia kerja. Rektor UPGRIS, Dr. Sri Suciati, M.Hum., menegaskan bahwa langkah itu memang ditujukan untuk bikin lulusan makin siap tempur. Meski selama ini lulusan UPGRIS sudah punya tingkat keterserapan kerja yang tinggi, kampus tetap ingin terus meningkatkan kualitas.

“Kita tidak hanya mempertahankan, tapi juga harus terus meningkatkan. Lulusan yang punya keterampilan pasti akan lebih percaya diri saat bersaing,” ujarnya. Bagi mahasiswa, ini berarti ke depan pilihan sertifikasi bakal makin banyak dan lebih relevan dengan jurusan masing-masing. Saat ini sudah ada 5 skema sertifikasi ditambah 17 skema baru, dan targetnya akan berkembang hingga 25 skema.

Menariknya, fasilitas kampus juga ikut dioptimalkan. Laboratorium yang biasanya dipakai untuk praktikum dan riset, sekarang juga bisa digunakan untuk uji kompetensi. Jadi, proses belajar mahasiswa bisa langsung terhubung dengan pengakuan keahlian secara resmi. UPGRIS juga tidak sembarangan memilih skema sertifikasi. Semua disesuaikan dengan kebutuhan program studi. Sertifikasi yang diambil benar-benar mendukung keahlian utama mahasiswa.

Hasilnya? Lulusan UPGRIS punya nilai lebih dibanding lulusan lain. Bahkan, tingkat keterserapan kerja mencapai lebih dari 90 persen dalam waktu kurang dari 6 bulan. Sebuah capaian yang menempatkan UPGRIS di peringkat pertama secara nasional dalam indikator kinerja utama (IKU).

Sementara itu, Kepala LSP UPGRIS, Dr. Perdana Afif Luthfy, M.T., menyebut bahwa pengembangan sertifikasi akan terus dilakukan. Saat ini beberapa program studi seperti Teknik Sipil, Arsitektur, dan Hukum sedang dalam proses pengajuan skema baru. Bahkan Prodi Bisnis Digital juga akan menambah skema “social media engineer” selain digital marketing.

Kalau dilihat dari minat mahasiswa, sertifikasi di bidang pengelolaan media pembelajaran multimedia jadi yang paling favorit. Sejak LSP UPGRIS berdiri pada April 2023, sudah ribuan mahasiswa yang mengikuti uji kompetensi. Tercatat, sebanyak 1.806 mahasiswa dan lulusan telah tersertifikasi dalam skema pengelolaan media sosial. Secara total, hingga kini sudah 2.694 mahasiswa dan lulusan UPGRIS mengantongi sertifikat kompetensi dari BNSP.

Dengan semakin banyaknya dosen yang menjadi asesor, proses sertifikasi ke depan diharapkan makin cepat, mudah, dan berkualitas. Untuk mahasiswa UPGRIS, ini saatnya memanfaatkan peluang untuk punya kompetisi tambahan sebelum lulus. Adapun pelatihan menghadirkan beberapa narasumber antara lain Dr. Muniroh Munawar, S.Pi., M.Pd., Dr. Perdana Afif Luthfy M.T., Dr. Bagus Ardi Saputro M.Pd., Dr. Mei Fita Asri Untari M.Pd., Dr. Riris Setyo Sundari M.Pd., dan Praptining Rahayu, M.Pd. (*)