Pembuatan Rambu Rawan Longsor dan Tanda Jalan untuk Jalur Evakuasi sebagai upaya Mitigasi Bencana

Bencana tanah longsor merupakan salah satu ancaman serius di wilayah perbukitan, terutama saat musim hujan dengan curah hujan tinggi. Kondisi lereng yang curam, minimnya vegetasi penahan tanah, serta kurangnya informasi peringatan dini sering kali meningkatkan risiko terjadinya longsor.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang 2026 Desa Mluweh Kecamatan Ungaran Timur melaksanakan program mitigasi bencana dengan fokus pada pembuatan rambu rawan longsor dan tanda jalan untuk jalur evakuasi guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Program ini berupa pembuatan dan pemasangan rambu peringatan rawan longsor serta penetapan tanda jalan untuk jalur evakuasi yang jelas dan mudah dipahami oleh masyarakat desa Mluweh. Rambu yang dibuat berisi informasi peringatan daerah rawan longsor, serta arah tanda jalan untuk  jalur evakuasi.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN bekerja sama dengan Bapak Sujarman selaku kepala desa Mluweh, Bapak Susanto selaku kepala dusun kalilateng barat, dan Bapak Jumani selaku ketua RT03, serta warga setempat. Sasaran utama program ini adalah seluruh masyarakat desa Mluweh, khususnya warga yang tinggal di sekitar lereng perbukitan dan daerah yang berpotensi mengalami longsor. Partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan, terutama dalam menentukan jalur evakuasi yang paling aman dan mudah dijangkau oleh semua kalangan.

Program ini dilaksanakan di desa Mluweh yang berada di kawasan perbukitan dan memiliki riwayat kejadian longsor. Pemasangan rambu dilakukan di titik-titik strategis, seperti akses jalan menuju lereng, persimpangan utama desa, serta area yang pernah terdampak longsor.

Kegiatan ini dilaksanakan selama masa KKN berlangsung, khususnya pada minggu ketiga pelaksanaan program kerja. Pembuatan desain rambu dilakukan pada awal kegiatan, dilanjutkan dengan proses pembuatan dan pemasangan rambu setelah melalui koordinasi dan persetujuan pemerintah desa. Penentuan titik lokasi juga dilakukan bersamaan dengan survei lapangan agar hasilnya sesuai dengan kondisi geografis setempat.

Program ini dilatarbelakangi oleh kurangnya penanda visual yang dapat memberikan peringatan dini kepada masyarakat maupun pengguna jalan yang melintasi wilayah tersebut. Banyak warga yang belum mengetahui jalur evakuasi yang aman ketika terjadi longsor, sehingga berpotensi menimbulkan kepanikan dan keterlambatan dalam menyelamatkan diri. Dengan adanya rambu peringatan dan jalur evakuasi yang jelas, diharapkan masyarakat dapat lebih sigap dan terarah dalam menghadapi situasi darurat.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan observasi lapangan untuk mengidentifikasi titik rawan longsor berdasarkan kondisi lereng, drainase, dan informasi dari warga setempat. Setelah itu, mahasiswa merancang desain rambu dengan warna mencolok dan tulisan yang jelas sesuai kaidah bahasa Indonesia agar mudah dibaca. Bahan rambu dipilih yang tahan terhadap cuaca agar dapat digunakan dalam jangka waktu lama.

Selanjutnya, mahasiswa bersama perangkat desa melakukan pemasangan rambu rawan longsor dan tanda jalan untuk jalur evakuasi di lokasi yang telah ditentukan. Jalur tersebut kemudian ditandai dengan panah penunjuk arah dan diinformasikan kepada masyarakat desa Mluweh.

Melalui program pembuatan rambu rawan longsor dan jalur evakuasi ini, masyarakat diharapkan memiliki panduan visual yang jelas dalam menghadapi potensi bencana. Keberadaan rambu tidak hanya berfungsi sebagai peringatan, tetapi juga sebagai bentuk edukasi berkelanjutan tentang pentingnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.

Dengan adanya kerja sama antara mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang 2026 desa Mluweh dan masyarakat desa Mluweh, diharapkan desa Mluweh menjadi lebih tangguh dan siap dalam menghadapi ancaman longsor, sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian material dapat diminimalkan.(*)