Revitalisasi TOGA di RW 11 Bukit Leyangan Damai, Mahasiswa KKN UPGRIS Hadirkan Solusi Sehat Berbasis Lingkungan

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melaksanakan revitalisasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu, 21 Februari 2026, berlokasi di RW 11 Perumnas Bukit Leyangan Damai. Program ini bertujuan mengoptimalkan kembali fungsi taman TOGA sebagai sarana edukasi sekaligus sumber alternatif pengobatan alami yang mudah diakses warga.

Revitalisasi dilakukan melalui penataan ulang area taman, penambahan serta penggantian tanaman yang kurang produktif, dan pengadaan pagar TOGA guna menjaga keamanan serta kerapian lingkungan taman. Langkah ini diambil karena keberadaan TOGA dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung kemandirian kesehatan keluarga, terutama dalam pemanfaatan tanaman herbal yang mudah dibudidayakan di lahan kosong.

Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa KKN bersama warga setempat. Proses pelaksanaan diawali dengan pembersihan lahan, perbaikan media tanam, penanaman kembali beberapa jenis tanaman herbal, serta pemasangan pagar pelindung di sekeliling taman. Dengan adanya pagar, taman TOGA diharapkan lebih tertata, aman dari gangguan, serta memiliki nilai estetika yang lebih baik.

Program revitalisasi ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai solusi kesehatan alami. Tanaman seperti jahe, kunyit, serai, dan daun sirih memiliki manfaat yang dapat digunakan untuk penanganan keluhan kesehatan ringan. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, taman TOGA berpotensi kurang terawat dan tidak dimanfaatkan secara optimal.

Salah satu mahasiswa KKN UPGRIS, Kio Danu, menyampaikan bahwa revitalisasi TOGA bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan juga upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat. Ia berharap taman herbal tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dirawat secara berkelanjutan oleh warga.

“Kami berharap taman TOGA ini tidak hanya menjadi pelengkap lingkungan, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai media edukasi dan sumber tanaman obat keluarga yang mudah dijangkau masyarakat. Dengan adanya pengadaan pagar TOGA, kami ingin taman ini lebih terjaga dan dapat bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan taman TOGA memiliki nilai strategis karena dapat menjadi sarana pembelajaran bagi anak-anak maupun orang dewasa tentang jenis dan manfaat tanaman herbal. Selain itu, pengelolaan yang berkelanjutan dapat memperkuat budaya hidup sehat berbasis potensi lokal.

Dukungan positif juga datang dari Ketua RT 02 RW 11, Bapak Tugino. Ia menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif mahasiswa KKN dalam kegiatan masyarakat. Menurutnya, kehadiran mahasiswa membawa semangat baru dalam menjaga dan mempercantik lingkungan sekitar.

“Saya sangat antusias dengan kegiatan teman-teman KKN. Program ini bagus dan memberikan manfaat nyata bagi warga. Keterlibatan mahasiswa di lingkungan kami sangat terasa. Saya sebagai Ketua RT merasa bangga dan mengapresiasi kinerja mereka,” tuturnya.

Ia berharap revitalisasi TOGA tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan dapat dilanjutkan dengan sistem perawatan rutin oleh warga. Menurutnya, keberlanjutan program menjadi kunci agar taman tetap produktif dan memberikan manfaat jangka panjang.

Program revitalisasi TOGA ini menjadi salah satu wujud nyata sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam membangun lingkungan yang sehat dan mandiri. Melalui kolaborasi tersebut, taman herbal tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran dan solusi kesehatan alternatif yang ramah lingkungan.

Ke depan, diharapkan taman TOGA RW 11 Perumnas Bukit Leyangan Damai dapat menjadi percontohan bagi lingkungan lain di Desa Leyangan. Semangat gotong royong yang telah terbangun diharapkan terus terjaga, sehingga taman herbal ini menjadi simbol kolaborasi, kepedulian, dan keberlanjutan. Revitalisasi ini bukan sekadar meninggalkan jejak fisik, melainkan menghadirkan warisan nilai tentang pentingnya menjaga kesehatan keluarga melalui pemanfaatan potensi alam secara bijak dan berkesinambungan.(*)