Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan lingkungan, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berkolaborasi dengan Puskesmas setempat melaksanakan kegiatan sosialisasi pemberantasan jentik nyamuk di Desa Beji pada Jumat, 27 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja bidang kesehatan lingkungan yang difokuskan pada pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), khususnya di musim penghujan yang berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk.
Kegiatan yang dilaksanakan di balai desa tersebut dihadiri oleh perangkat desa, kader posyandu, ibu-ibu PKK, serta masyarakat sekitar. Antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif dalam mengikuti seluruh rangkaian acara. Dalam sambutannya, Bu Purwati selaku perwakilan Pemerintah Desa Beji menyampaikan apresiasi atas kepedulian mahasiswa KKN UPGRIS yang bersinergi dengan Puskesmas dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Pemerintah desa berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah preventif yang berkelanjutan dalam menekan angka kasus DBD di wilayah Desa Beji.
Materi sosialisasi disampaikan secara langsung oleh Bu Elisa tenaga kesehatan dari Puskesmas yang menjelaskan secara rinci mengenai pengertian DBD, penyebab, cara penularan, hingga langkah-langkah pencegahannya. Dijelaskan bahwa penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini umumnya berkembang biak di air bersih yang tergenang dan aktif menggigit pada pagi serta sore hari. Oleh karena itu, lingkungan rumah yang tidak terjaga kebersihannya dapat menjadi tempat ideal bagi perkembangbiakan jentik nyamuk.
Dalam pemaparannya, tenaga kesehatan juga menjelaskan siklus hidup nyamuk mulai dari telur, larva (jentik), pupa, hingga menjadi nyamuk dewasa. Tahap jentik merupakan fase yang paling mudah untuk diberantas karena masih berada di dalam air dan belum dapat terbang. Oleh sebab itu, pemberantasan jentik secara rutin dinilai sebagai langkah paling efektif dalam memutus rantai penyebaran DBD.
Mahasiswa KKN UPGRIS turut berperan aktif dalam membantu jalannya kegiatan, baik dalam persiapan, pendampingan teknis, maupun penyampaian materi tambahan dengan bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami oleh masyarakat. Mahasiswa juga memberikan contoh langsung cara memeriksa keberadaan jentik di bak mandi, ember, maupun tempat penampungan air lainnya. Praktik ini bertujuan agar masyarakat memiliki keterampilan untuk melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah masing-masing.
Sosialisasi ini juga menekankan pentingnya penerapan gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air minimal satu minggu sekali, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air. Adapun langkah tambahan atau “Plus” meliputi penggunaan kelambu atau lotion anti nyamuk, pemasangan kawat kasa pada ventilasi rumah, memelihara ikan pemakan jentik, serta mengikuti kegiatan gotong royong kebersihan lingkungan.
Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Warga mengajukan berbagai pertanyaan terkait penggunaan bubuk abate yang benar, tanda-tanda awal seseorang terkena DBD, serta langkah penanganan pertama sebelum mendapatkan perawatan medis. Pihak Puskesmas menegaskan bahwa gejala DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, serta munculnya bintik merah pada kulit tidak boleh dianggap remeh dan harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Sebagai bentuk implementasi nyata, mahasiswa KKN bersama kader kesehatan melakukan pemeriksaan jentik di beberapa rumah warga sekitar lokasi kegiatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan masih terdapat beberapa tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, sehingga dilakukan edukasi langsung mengenai cara pembersihan dan pencegahan yang tepat. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan pemeriksaan jentik secara berkala di tingkat rumah tangga.
Melalui kolaborasi ini, Mahasiswa KKN UPGRIS dan Puskesmas Desa Beji menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sinergi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas dari ancaman DBD. Diharapkan, kegiatan sosialisasi ini tidak berhenti pada satu momentum saja, tetapi dapat menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan demi terwujudnya Desa Beji yang sehat dan bebas jentik nyamuk.

