Pada Sabtu, 14 Februari 2026, suasana di salah satu sudut Kelurahan Genuk tampak lebih sibuk dari biasanya. Puluhan mahasiswa yang mengenakan jaket almamater kebanggaan mereka tampak bahu-membahu dengan ibu-ibu penggerak PKK setempat. Mereka tidak sedang melakukan demonstrasi, melainkan sedang menanam asa melalui program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Revitalisasi Apotek Hidup Berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA)”.
Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas fisik menancapkan bibit ke dalam tanah. Lebih dari itu, mahasiswa KKN Kelompok 16 UPGRIS membawa misi edukasi yang komprehensif. Berbagai jenis tanaman berkhasiat dikurasi secara khusus berdasarkan kebutuhan masyarakat desa. Mulai dari jahe yang ampuh untuk menghangatkan tubuh, sirih sebagai antiseptik alami, kunir dan temulawak untuk kesehatan pencernaan, hingga tanaman kumis kucing yang dikenal baik untuk kesehatan ginjal, tertata rapi di lahan pemanfaatan warga.
Selain praktik menanam, mahasiswa juga memberikan pemaparan mendalam mengenai kandungan farmakologis sederhana dari setiap tanaman. Hal ini dilakukan untuk menjawab tantangan zaman di mana banyak masyarakat perkotaan maupun pedesaan yang mulai melupakan khasiat “empon-empon” asli Indonesia. Dengan edukasi ini, warga diharapkan mampu mengolah tanaman tersebut menjadi jamu atau ramuan herbal sederhana untuk menjaga imunitas keluarga tanpa harus selalu bergantung pada obat-obatan kimia yang beredar di pasaran.
Ketua PKK Kelurahan Genuk, Bu Mur, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN UPGRIS memberikan warna baru sekaligus stimulan bagi ibu-ibu PKK yang selama ini menjadi garda terdepan dalam kesejahteraan keluarga di desa.
“Kami sangat senang dan sangat mengapresiasi kehadiran anak-anak mahasiswa ini. Mereka tidak hanya membawa bibit tanaman yang berkualitas, tetapi juga membawa ilmu baru bagi kami tentang cara tanam yang efektif dan benar. Dulu, mungkin lahan ini hanya ditumbuhi rumput liar atau kosong begitu saja, namun sekarang jadi lebih hijau, asri, dan yang terpenting sangat bermanfaat,” tutur Bu Mur dengan penuh semangat.
Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi inspirasi bagi para ibu di Kelurahan Genuk untuk mulai melirik pekarangan rumah masing-masing sebagai sumber pangan dan kesehatan yang produktif. “Inspirasi ini penting agar kami, para ibu, bisa lebih kreatif dalam memanfaatkan lahan sempit sekalipun,” tambahnya.
Penanggung Jawab Program Kerja, Kevin, dalam wawancaranya menekankan bahwa filosofi dari program ini adalah keberlanjutan. KKN tidak boleh hanya sekadar datang dan pergi, tetapi harus meninggalkan “jejak” yang manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka waktu lama.
“Kami ingin meninggalkan sesuatu yang terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata secara berkelanjutan bagi warga Genuk. Penanaman TOGA ini kami lihat sebagai langkah kecil namun fundamental untuk membangun kemandirian kesehatan di tingkat akar rumput. Harapan kami, melalui hasil kebun sendiri, warga bisa mendapatkan pertolongan pertama secara alami untuk keluhan kesehatan ringan sebelum memutuskan pergi ke fasilitas kesehatan yang lebih jauh,” jelas Kevin dengan lugas.
Kevin juga menekankan bahwa penataan area taman TOGA dilakukan dengan prinsip estetika agar taman tersebut mudah dirawat dan enak dipandang. Dengan demikian, warga akan merasa memiliki dan termotivasi untuk terus menjaga tanaman-tanaman tersebut agar tidak mati.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari tersebut ditutup dengan sesi diskusi santai antara mahasiswa dan warga. Sinergi yang tercipta di akhir pekan ini membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa dilakukan dengan cara-cara yang menyenangkan namun tetap edukatif.
Melalui program penanaman TOGA ini, Kelurahan Genuk kini memiliki potensi untuk menjadi desa percontohan dalam pemanfaatan lahan sempit. Fokus pada ketahanan kesehatan keluarga berbasis herbal ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat sekaligus melestarikan warisan leluhur Indonesia dalam bentuk tanaman obat keluarga. Kolaborasi antara akademisi dan penggerak masyarakat ini menjadi bukti bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil di pekarangan rumah sendiri.

