Rektor Terpilih Harus Mampu Melanjutkan Estafet Kepemimpinan

Dalam sebuah institusi, pergantian pemimpin adalah proses yang wajar. Bahkan bisa dikatakan itu adalah proses yang harus terjadi. Sebab itu artinya proses kaderisasi berjalan dengan baik. Dengan kaderisasi yang mengusung semangat keberlanjutan itulah sebuah lembaga dan institusi sanggup bertahan dari waktu ke waktu.

“Pemilihan rektor adalah acara yang sangat krusial bagi masa depan lembaga kita ke depan. Kehadiran seluruh komponen dari pejabat struktural menunjukkan bahwa komitmen kolektif kita begitu solid dan kuat. Masa depan kampus adalah tanggung jawab kita bersama.”

Hal itu disampaikan oleh Rektor Universitas PGRI Semarang, Dr. Sri Suciati, M.Hum., dalam acara Sosialisasi Pemilihan Rektor UPGRIS Masa Jabatan 2026-2030 yang diselenggarakan oleh YPLP PT PGRI Semarang pada 24 April 2026 di Gedung Pusat lantai 7.

Rektor melanjutkan, perguruan tinggi bukan sekadar bangunan dan tempat belajar. Tapi organisme hidup yang akan terus bertumbuh.

“Pergantian kepemimpinan merupakan sebuah keniscayaan. Kita tidak boleh melihat pergantian kepemimpinan hanya perubahan sosok. Tapi estafet kepemimpinan. Kita ingin memastikan capaian sebelumnya untuk membuat capaian selanjutnya lebih cepat.”

Rektor berharap, siapa pun kelak penggantinya akan tampil sebagai pemimpin selanjutnya yang bisa melompat lebih tinggi.

Pada kesempatan yang sama, Pembina YPLP PT PGRI Semarang, Dr. Muhdi, S.H., M.Hum., menyampaikan dalam sambutannya, pemilihan rektor ini adalah cermin proses kaderisasi yang berjalan mulus.

“Kaderisasi yang sehat tidak lahir dari proses instant. Menunjukkan kapasitas dan integritas. Untuk itulah mari kita kawal dengan semangat kekeluargaan. Berjalan aman, tertib serta jujur,” ungkapnya.

Menurut Muhdi, kepemimpinan yang baru harus punya cara untuk melompat lebih tinggi. Agar prestasi sebelumnya bisa terus dilanjutkan. “Apa yang dicapai oleh Bu Suci, pemimpin selanjutnya harus mampu melanjutkan tongkat estafet prestasi menjadi lebih tinggi,” tegasnya.