Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 36 Desa Waru menggelar kegiatan sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk kompos dari sampah organik rumah tangga. Kegiatan ini menghadirkan akademisi UPGRIS, Ibu Fibria Kaswinarni, M.Si., sebagai pemateri utama, serta diikuti oleh pengurus dan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Waru. Acara ini merupakan salah satu program kerja unggulan mahasiswa KKN yang difokuskan pada isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
Pelatihan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap tingginya volume sampah rumah tangga yang belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, sebagian besar warga masih membuang sampah dapur begitu saja tanpa proses pemilahan, sehingga sampah organik yang sebenarnya memiliki nilai guna justru bercampur dengan sampah anorganik dan berakhir di tempat pembuangan akhir.
Padahal, apabila dikelola dengan baik, sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, dan sisa makanan dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Melalui program ini, warga diajak untuk memilah dan mengolah limbah dapur menjadi produk berguna yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan, sekaligus mengurangi beban sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Dalam pemaparannya, Ibu Fibria Kaswinarni, M.Si., menjelaskan pentingnya memilah sampah sejak tingkat rumah tangga sebagai langkah awal menuju pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Menurutnya, kesadaran memilah sampah harus dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebelum dapat diterapkan secara lebih luas di tingkat RT, RW, hingga desa.
Beliau mempraktikkan secara langsung langkah-langkah pengolahan sampah organik seperti sisa sayuran dan limbah dapur, dengan menggunakan wadah bekas berupa galon yang dimodifikasi menjadi komposter sederhana. Pemilihan galon bekas sebagai media komposter ini sengaja dipilih karena mudah didapat, tidak memerlukan biaya tambahan, serta dapat menjadi solusi praktis bagi warga yang memiliki keterbatasan lahan.
Para ibu pengurus dan kader PKK Desa Waru terlihat antusias mengikuti tahapan praktik, mulai dari pencampuran bahan baku sampah organik, penambahan tanah, pengaturan kelembapan, hingga penggunaan cairan aktivator untuk mempercepat proses penguraian secara alami.
Setiap tahapan dijelaskan secara rinci, termasuk perbandingan komposisi bahan yang ideal, cara menjaga kelembapan agar proses penguraian berjalan optimal, serta tanda-tanda kompos yang telah matang dan siap digunakan. Para peserta juga diberi kesempatan untuk bertanya secara langsung terkait kendala yang biasa mereka hadapi dalam pengelolaan sampah rumah tangga sehari-hari, seperti bau tidak sedap maupun munculnya larva atau serangga.
“Pengolahan sampah organik tidak memerlukan modal besar atau teknologi rumit. Cukup dengan memanfaatkan wadah bekas seperti galon yang ada di sekitar rumah, sisa sampah dapur bisa diubah menjadi pupuk kompos berkualitas untuk tanaman di pekarangan,” ujar Ibu Fibria di sela-sela peragaan praktik. Ia menambahkan bahwa pupuk kompos hasil olahan sendiri juga dapat menjadi alternatif pengganti pupuk kimia yang harganya cenderung terus meningkat, sehingga selain ramah lingkungan, cara ini juga membantu warga menghemat pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan berkebun.
Perwakilan mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 36 Desa Waru berharap, melalui pelatihan ini, para kader PKK dapat menjadi agen perubahan yang menularkan pengetahuan pengolahan sampah organik kepada warga di lingkungan RT dan RW masing-masing. Dengan adanya kader-kader yang telah dibekali pemahaman dan keterampilan praktis ini, diharapkan budaya memilah dan mengolah sampah dapat tumbuh secara berkelanjutan di Desa Waru, bahkan setelah masa KKN mahasiswa UPGRIS berakhir.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Desa KKN UPGRIS Kelompok 36, Isfadhil Kholifatul Anwar Lutfi Toha, turut menyampaikan tanggapannya terkait kegiatan ini.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat Desa Waru bisa lebih memahami pentingnya mengolah limbah dapur, yang selama ini mungkin masih dianggap sebagai sampah yang tidak berguna. Padahal kalau diolah dengan baik, limbah dapur ini bisa jadi lebih bermanfaat, salah satunya sebagai pupuk kompos untuk kebutuhan bercocok tanam warga,” ujar Isfadhil.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif, pembuatan pupuk kompos percontohan, dan foto bersama seluruh peserta, mahasiswa KKN UPGRIS, serta pemateri. Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN Kelompok 36 berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Desa Waru, khususnya dalam mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)

