Wisudawan UPGRIS Ini Soroti Urgensi Perlindungan Guru

Perlindungan terhadap guru menjadi hal mendasar yang perlu diwujudkan agar pendidik dapat menjalankan profesinya dengan aman, dihargai, dan memiliki ruang untuk berkembang.

Pesan tersebut disampaikan M. Sauki Taufiqurohman, S.Pd., perwakilan wisudawan dalam Wisuda ke-84 Universitas PGRI Semarang, di Gedung Balairung, Jalan Lontar, Semarang, pada 13 Oktober 2026. Di hadapan para wisudawan dan pimpinan universitas, Sauki menekankan bahwa guru memiliki peran penting yang tidak dapat dipisahkan dari upaya memperbaiki mutu pendidikan.

“Kami percaya, perjuangan meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan pernah selesai hanya dengan membangun instansi sekolah baru, mengganti kurikulum, atau menghadirkan kebijakan baru. Karena pada akhirnya, di balik setiap pendidikan yang baik, selalu ada guru yang dihargai, dilindungi, dan diberi ruang untuk bertumbuh,” kata Sauki yang juga pernah menjabat sebagai Presiden BEM UPGRIS.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh perubahan sistem dan kebijakan. Perhatian terhadap orang-orang yang menjalankan proses pendidikan di ruang kelas juga harus menjadi bagian penting dari pembenahan pendidikan nasional.

Sauki berharap perlindungan terhadap guru tidak berhenti pada rumusan aturan dan perundang-undangan. Jaminan perlindungan itu harus benar-benar hadir ketika guru menjalankan tanggung jawab profesionalnya.

“Karena itu, kami berharap perlindungan terhadap guru tidak hanya menjadi kata-kata dalam aturan dan perundang-undangan. Tetapi benar-benar hadir ketika seorang guru menjalankan tugas profesionalnya. Kepada pemerintah Republik Indonesia, kepada para pemangku kebijakan, kepada seluruh pemangku kepentingan pendidikan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pesan penting dari para lulusan, terutama bagi mereka yang akan memasuki dunia kerja dan berkontribusi dalam bidang pendidikan. Sauki mengingatkan bahwa perbaikan pendidikan membutuhkan perhatian terhadap kesejahteraan, keamanan, dan keberlanjutan pengembangan profesi guru.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., dalam pidatonya menyampaikan bahwa universitas menerima 3.727 mahasiswa baru pada 2026. Jumlah tersebut, jika ditambah 346 mahasiswa PPG calon guru tahun ajaran 2026/2027 dan 96 peserta PPG Guru Tertentu Tahap 3–PKA, mencapai 4.169 orang.

Rektor menilai capaian tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Universitas PGRI Semarang di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat.

Rektor juga berpesan agar para lulusan menjadi pribadi mandiri, berintegritas, bertanggung jawab, dan terus mengembangkan kemampuan diri. Nilai-nilai yang diperoleh selama kuliah, menurut dia, perlu dibawa ke lingkungan tempat para lulusan berkarya.(*)