Darurat Konservasi Mangrove

Darurat Konservasi Mangrove

Program studi magister pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) gelar konservasi mangrove. Kegiatan ini dilakukan dalam program kerjasama UPGRIS dengan dengan dinas lingkungan hidup kabupaten Demak. Ada seribu benih mangrove yang di tanam di Tambak Bulusan Demak baru-baru ini. Pantai Utara Jawa  (Pantura)  telah terjadi abrasi yang sangat mengkhawatirkan, apalagi di kabupaten Demak. Wilayah pesisir Sayung sudah menjadi dampak dari perubahan iklim alam yang patut diantisipasi.

Pengikisan pantai Tambak Bulusan akibat dihantam gelombang pasang tiap harinya yang telah berjalan beberapa tahun belakangan ini. Konservasi mangrove di wilayah kabupaten Demak merupakan sikap peduli terhadap kondisi lingkungan.

Hadir dalam kegiatan konservasi mangrove Dr Fenny Roshayanti MPd ketua program studi magister IPA UPGRIS, Drs Agus Musyafak MSi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, serta para mahasiswa UPGRIS.

Fenny Roshayanti menyampaikan kegiatan ini merupakan bentuk implementasi dari penciri Program studi pascasarjana IPA Educarion for Sustainable Development (ESD). “ESD didefinisikan sebagai pendidikan yang mendorong perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan sikap untuk memungkinkan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan adil bagi semua. ESD bertujuan untuk memberdayakan dan melengkapi generasi sekarang dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka menggunakan pendekatan yang seimbang dan terpadu untuk dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan dari pembangunan berkelanjutan,” tutur Fenny.

Dengan memasukkan isu-isu utama pembangunan berkelanjutan ke dalam pengajaran dan pembelajaran; misalnya, perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, keanekaragaman hayati, pengurangan kemiskinan, dan konsumsi berkelanjutan.

“Mangrove banyak tumbuh di kawasan pesisir pantai. Namun, dewasa ini pertumbuhan hutan mangrove semakin menurun. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan ini seperti kurangnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat mangrove dan bagaimana cara membudidayakannya. Sehingga, sangatlah penting konservasi mangrove untuk lingkungan yang lebih baik,” ungkap Agus Musyafak.

Harapan dari program ini diantaranya permasalahan abrasi di Tambak Bulusan kabupaten Demak dapat teratasi. Kedua, stabilitas lingkungan khususnya daerah pesisir dapat terjaga. Ketiga,  kesejahteraan masyarakat sekitar dapat terjamin dengan baik. Keempat, berdampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar, karena hutan mangrove pada area pantai dapat dijadikan sebagai objek wisata bahari.