Pasang 9 Titik Biopori untuk Mitigasi Banjir

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 30 Pedurungan Tengah Universitas PGRI Semarang terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. Bersama Karang Taruna RT 05 RW 06, mahasiswa KKN melaksanakan kegiatan Mitigasi Bencana banjir dengan pemasangan lubang resapan biopori sepanjang bulan Februari 2026 yang dilaksanakan rutin setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu.

Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah RT 05 RW 06 yang terdiri dari tiga cluster pemukiman. Pemasangan biopori dilakukan secara bertahap di setiap cluster berdasarkan hasil observasi lapangan. Dari proses tersebut, ditetapkan satu titik biopori di Cluster 1, empat titik di Cluster 2, dan empat titik di Cluster 3. Dengan demikian, total sebanyak sembilan lubang biopori berhasil dipasang selama program berlangsung.

Ketua Karang Taruna RT 05 RW 06, Ngesthi Farrel Natan Ramadhan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian pemuda terhadap persoalan lingkungan, khususnya potensi genangan air saat musim hujan. Menurutnya, kondisi cuaca dengan intensitas hujan yang cukup tinggi mendorong perlunya langkah preventif di tingkat lingkungan terkecil.

“Kami melihat bahwa beberapa titik di lingkungan RT 05 RW 06 masih rawan terjadi genangan ketika curah hujan tinggi. Melalui program biopori ini, kami ingin berkontribusi langsung dalam upaya pencegahan banjir skala kecil sekaligus meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Ngesthi saat ditemui di sela kegiatan, Februari 2026.

Program ini tidak hanya melibatkan pengurus Karang Taruna, tetapi juga mahasiswa KKN Kelompok 30 Pedurungan Tengah yang turut serta dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan. Sejak awal, mahasiswa dan pemuda setempat melakukan koordinasi untuk menentukan konsep kegiatan, jadwal pelaksanaan, serta pembagian tugas di masing-masing cluster.

Kegiatan dilakukan secara gotong royong, dimulai dari identifikasi titik rawan genangan, penggalian lubang menggunakan bor biopori, hingga pengisian lubang dengan sampah organik sebagai media resapan. Sampah organik seperti daun kering dipilih karena dapat terurai secara alami dan membantu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus memperbesar daya serap air.

Koordinator Divisi Mitigasi Bencana, Farkhan Zacky Muamar, menyampaikan bahwa pemilihan lokasi pemasangan didasarkan pada hasil observasi langsung di masing-masing cluster. Pendekatan berbasis data lapangan ini dinilai penting agar pemasangan biopori benar-benar memberikan dampak yang signifikan.

“Kami melakukan pemetaan sederhana bersama teman-teman KKN dan Ketua Karang Taruna untuk menentukan titik yang paling membutuhkan. Biopori ini berfungsi untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan, sehingga diharapkan dapat mengurangi potensi genangan dan membantu menjaga keseimbangan air tanah,” jelas Amar.

Secara waktu, kegiatan pemasangan biopori dilaksanakan setiap akhir pekan selama bulan Februari 2026 agar tidak mengganggu aktivitas utama anggota Karang Taruna maupun mahasiswa. Pelaksanaan pada Sabtu dan Minggu juga memungkinkan partisipasi lebih luas dari pemuda dan masyarakat sekitar yang ingin terlibat secara langsung dalam proses pengerjaan.

Dari sisi pelaksanaan, proses pemasangan diawali dengan sosialisasi singkat kepada anggota yang terlibat mengenai fungsi dan manfaat biopori. Setelah itu, tim melakukan pengeboran tanah dengan kedalaman standar, kemudian lubang diisi dengan sampah organik untuk mendukung proses dekomposisi alami dan meningkatkan daya resap tanah terhadap air hujan.

Mahasiswa KKN Kelompok 30 Pedurungan Tengah menyambut positif kolaborasi ini karena sejalan dengan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan dan keberlanjutan lingkungan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga belajar berinteraksi, berkoordinasi, dan bekerja sama dengan elemen masyarakat secara langsung.

Kegiatan pemasangan biopori ini diharapkan tidak berhenti pada sembilan titik yang telah terealisasi, melainkan dapat menjadi langkah awal gerakan berkelanjutan di lingkungan RT 05 RW 06. Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi, mahasiswa KKN UPGRIS bersama Karang Taruna menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana namun berdampak nyata bagi masyarakat.