Seorang mahasiswa dari Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) menjalani program PPL dan KKN internasional seorang diri di Satit Phatnawitya Yala School, Tailan. Program tersebut berlangsung dari tanggal 17 Januari hingga 10 Februari 2026, dengan fokus utamanya pada asistensi mengajar sekaligus pendampingan siswa sebagai wali kelas.
Kegiatan PPL dan KKN internasional ini dilaksanakan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus penguatan kompetensi calon pendidik di lingkungan pendidikan multikultural. Mahasiswa UPGRIS tersebut terlibat langsung dalam proses pembelajaran harian, mulai dari menyampaikan materi, mendampingi aktivitas belajar siswa, hingga menjalankan peran wali kelas untuk mengontrol kedisiplinan dan keaktifan peserta didik.
Selama program ini, mahasiswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas. Ia membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran, mendampingi siswa, serta berperan aktif dalam perkembangan akademik dan karakter mereka. Selain itu, mahasiswa juga mendekatkan diri dengan siswa melalui kegiatan rutin belajar alquran, latihan percakapan bahasa Inggris, serta membiasakan disiplin kelas dan kerjasama tim. Semua kegiatan ini dirancang untuk mendukung kurikulum sekolah sekaligus menghormati budaya lokal.
Rozan Ulya Budi Aziza, mahasiswa UPGRIS yang berpartisipasi dalam program ini menjelaskan bahwa pengalaman menjalani program PPL dan KKN seorang diri di luar negeri menjadi sebuah tantangan sekaligus pembelajaran yang sangat berharga.
“Program ini memberi saya kesempatan untuk belajar secara langsung tentang sistem pendidikan di Tailan, sekaligus mengasah keterampilan pedagogik dan komunikasi lintas budaya. Sebagai wali kelas, saya belajar bagaimana memahami karakter siswa satu per satu, membantu mereka beradaptasi, dan menumbuhkan motivasi belajar. Tantangan bahasa dan perbedaan budaya justru memperkaya perspektif saya sebagai calon pendidik,” ujar Rozan, mahasiswa UPGRIS peserta PPL dan KKN Internasional.
Di sisi lain, Ms. Wan Anita Hasa, seorang guru di Satit Phatnawitya Yala School, Tailan menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi mahasiswa UPGRIS tersebut.
“Kami sangat senang dengan kehadiran mahasiswa dari UPGRIS ini. Ia aktif, disiplin, dan mampu beradaptasi dengan baik. Perannya sebagai asisten pengajar dan wali kelas memberikan dampak positif terhadap suasana belajar siswa,” tutur Ms. Wan Anita Hasa, salah satu guru di Satit Phatnawitya Yala School, Tailan.
Kegiatan PPL dan KKN internasional ini mencakup berbagai aktivitas, antara lain praktek mengajar di kelas, penyusunan perangkat ajar sederhana, serta keterlibatan dalam kegiatan sekolah seperti upacara pagi dan aktivitas ekstrakurikuler. Mahasiswa juga turut membantu guru dalam melakukan evaluasi pembelajaran dan memberikan umpan balik kepada siswa.
Pelaksanaan program PPL dan KKN ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan profesionalisme mahasiswa, memperluas wawasan global, serta mempererat hubungan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Tailan. Selain itu, program ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) bagi mahasiswa, khususnya dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan di era globalisasi.
Program ini berlangsung selama 25 hari, terhitung sejak 17 Januari hingga 10 Februari 2026. Selama periode tersebut, mahasiswa tinggal di asrama guru yang dekat dengan sekolah agar dapat mengikuti seluruh aktivitas pendidikan secara optimal. Adapun lokasi pelaksanaan berada di wilayah Yala, Tailan Selatan, yang dikenal memiliki keragaman budaya dan latar belakang sosial yang unik.
Melalui PPL dan KKN internasional ini, mahasiswa UPGRIS tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga membawa misi diplomasi pendidikan. Kehadiran mahasiswa Indonesia di Satit Phatnawitya School menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas negara dapat dimulai dari ruang kelas, melalui interaksi sederhana antara guru, mahasiswa, dan siswa.
Untuk kedepannya, program serupa diharapkan dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak mahasiswa dan institusi pendidikan, sehingga pertukaran pengetahuan dan praktik baik antarnegara dapat semakin diperkuat. Bagi mahasiswa peserta, pengalaman ini menjadi bekal penting untuk membentuk karakter pendidik yang adaptif dan berwawasan global.

