Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 23 UPGRIS melaksanakan program kerja bidang kewirausahaan melalui kegiatan pelatihan pembuatan es krim bagi ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Manggar Lestari. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan fokus pada peningkatan keterampilan serta pemberdayaan ekonomi keluarga berbasis potensi lokal.
Pelatihan yang dilaksanakan di salah satu rumah anggota KWT Manggar Lestari yakni Ibu Sriatun, diikuti dengan penuh antusias oleh para anggota KWT Manggar Lestari. Sejak awal kegiatan, suasana tampak hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya datang untuk menyimak materi, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan dari produk olahan sederhana seperti es krim.
Dalam pelatihan ini, mahasiswa KKN memperkenalkan cara pembuatan es krim menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, seperti susu, gula, krimer, serta tambahan perasa alami. Proses pembuatannya pun dirancang agar sederhana dan tidak memerlukan alat khusus yang mahal, sehingga dapat dipraktikkan kembali secara mandiri di rumah. Dengan metode yang praktis dan ekonomis, diharapkan para ibu dapat langsung mengimplementasikan keterampilan tersebut sebagai peluang usaha rumahan.
Koordinator bidang kewirausahaan KKN, Vera Rizky A. P., menjelaskan bahwa pemilihan program ini didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan keterampilan yang aplikatif dan memiliki potensi pasar. “Kami ingin menghadirkan pelatihan yang tidak hanya berhenti pada praktik hari ini saja, tetapi benar-benar bisa menjadi peluang usaha berkelanjutan. Es krim memiliki pangsa pasar luas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa,” ujarnya.
Keunikan dari pelatihan ini terletak pada varian rasa yang diperkenalkan, yakni kopi gula aren. Varian tersebut dipilih karena memanfaatkan bahan lokal yang sudah akrab di kalangan masyarakat. Gula aren yang memiliki cita rasa khas dipadukan dengan aroma kopi menciptakan sensasi rasa manis legit dengan sentuhan pahit yang seimbang. Inovasi ini diharapkan mampu menjadi daya tarik tersendiri di tengah persaingan produk kuliner yang semakin beragam.
Tidak hanya mempraktikkan pembuatan es krim, peserta juga diberikan pemahaman mengenai aspek dasar kewirausahaan, seperti perhitungan sederhana biaya produksi, penentuan harga jual, hingga strategi pemasaran yang bisa dilakukan melalui media sosial maupun penjualan langsung di lingkungan sekitar. Mahasiswa KKN menekankan bahwa kemasan dan penyajian yang menarik juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan nilai jual produk.
Ketua KWT Manggar Lestari, Ibu Sriatun, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN dalam menghadirkan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini membuka wawasan baru bagi para anggota KWT untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar. “Kami merasa terbantu dengan adanya pelatihan ini. Selain menambah keterampilan, kami juga mendapatkan gambaran bagaimana memulai usaha kecil dari rumah,” ungkapnya.
Salah satu peserta, Ibu Rini Lestari, juga mengaku sangat tertarik dengan varian kopi gula aren yang diperkenalkan. Ia menilai rasa tersebut memiliki ciri khas dan berbeda dari es krim pada umumnya. “Biasanya es krim identik dengan rasa buah atau cokelat. Tapi ini unik karena memadukan kopi dan gula aren. Rasanya enak dan bisa jadi peluang usaha,” tuturnya dengan semangat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap pelatihan tidak hanya menjadi program sesaat, melainkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi peningkatan ekonomi keluarga. Dengan keterampilan yang telah diperoleh, para ibu diharapkan lebih percaya diri untuk mencoba berwirausaha, baik secara individu maupun berkelompok.
Program pelatihan pembuatan es krim ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mendukung pengembangan UMKM rumah tangga di Desa Lerep. Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat diharapkan terus terjalin, sehingga berbagai potensi lokal dapat diolah menjadi produk kreatif dan bernilai jual tinggi. Dengan semangat kebersamaan dan inovasi, kegiatan ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan ekonomi dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dikelola secara konsisten dan penuh kreativitas.

