Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai bagian dari upaya menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat-Pemberdayaan Masyarakat (PKM-PM), UPGRIS mendampingi pemuda Karang Taruna Dusun Klego, Desa Pilangrejo, Kabupaten Boyolali, mengolah limbah kulit singkong menjadi edible plastic. Ini semacam alternatif kemasan pangan berbasis pati.
Kegiatan yang berlangsung pada 11 Agustus 2026 silam itu tidak hanya berfokus pada keterampilan membuat produk. Tim PKM-PM UPGRIS terlebih dahulu memberikan edukasi mengenai penggunaan plastik konvensional, persoalan sampah plastik, serta potensi mikroplastik terhadap lingkungan. Melalui edukasi tersebut, pemuda diajak melihat limbah dan persoalan lingkungan dari sudut pandang yang berbeda.
Kulit singkong yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diperkenalkan sebagai sumber bahan baku berbasis pati. Dari bahan tersebut, peserta belajar bahwa persoalan lingkungan dapat didekati melalui kreativitas dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar.
Tim UPGRIS juga menjelaskan karakteristik edible plastic dan batas penggunaannya. Material berbasis pati memiliki sifat berbeda dari plastik konvensional sehingga pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan kondisi pangan. Dalam pelatihan, produk diarahkan terutama untuk makanan kering dan bersuhu ruang. Penggunaan untuk makanan panas atau berkuah belum dianjurkan karena material lebih sensitif terhadap kelembapan dan suhu tinggi.
Setelah edukasi, peserta mengikuti praktik pembuatan. Proses dimulai dengan ekstraksi pati dari kulit singkong. Pati kemudian diolah menggunakan formulasi yang telah disiapkan hingga menjadi larutan yang dapat dicetak. Setelah melalui proses pencetakan dan pengeringan, terbentuk lembaran edible plastic.
Peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi. Anggota Karang Taruna turut mempraktikkan tahapan pembuatan dengan pendampingan Tim PKM-PM UPGRIS. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori, tetapi berkembang menjadi keterampilan yang dapat dilakukan secara mandiri.
Dosen Pembimbing Mahasiswa, Dr. Maria Ulfah, S.Si, M.Pd., menjelaskan, produk yang dihasilkan kemudian diamati berdasarkan warna, ketebalan, tekstur, elastisitas, dan bau. “Hasil pengamatan menunjukkan edible plastic berwarna sedikit keruh, bertekstur halus, elastis, dan tidak memiliki bau. Produk kemudian dicoba sebagai wadah makanan kering bersuhu ruang,” jelasnya.
Proses tersebut sekaligus mengenalkan kepada peserta bahwa sebuah inovasi membutuhkan pengujian dan penyempurnaan. Edible plastic dari kulit singkong masih memerlukan pengembangan formulasi serta pengujian karakteristik yang lebih komprehensif sebelum dapat digunakan secara lebih luas.
Dari Dusun Klego, UPGRIS menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berangkat dari teknologi yang rumit. Bahan sederhana seperti kulit singkong dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian lingkungan, keterampilan pemuda, sekaligus pemanfaatan potensi lokal. Pengetahuan dari kampus pun memperoleh makna ketika dapat hadir dan tumbuh bersama masyarakat.

