Dari Kamerun sampai Vanuatu, 20 Peserta dari Berbagai Negara Ikuti UPGRIS Engineering Day 2026

Semakin hari semakin mendunia. Itulah gambaran peserta acara Universitas PGRI Semarang Engineering Day 2026 yang diselenggarakan pada 19 Oktober 2026. Program ini diikuti 20 peserta dari 10 negara dan wilayah, mulai dari Afrika, Asia Tenggara, Asia Tengah, hingga kawasan Pasifik dan Asia Timur.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh UPT Kantor Urusan Internasional (KUI) UPGRIS bersama Fakultas Teknik dan Informatika UPGRIS serta Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut mengusung tema Hands-on Learning and City Exploration for a Sustainable Future. Program dirancang untuk memadukan pembelajaran berbasis praktik, eksplorasi lingkungan perkotaan, dan interaksi lintas budaya.

Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., mengatakan, pengembangan pendidikan tinggi perlu dilakukan melalui pendekatan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kontribusi nyata bagi masyarakat. Kemitraan dengan Unnes dalam kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kerja sama antarlembaga untuk memperluas pengalaman belajar dan memperkuat jejaring akademik.

“Universitas PGRI Semarang berkomitmen mengembangkan pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kontribusi nyata. Kemitraan dengan Universitas Negeri Semarang dalam penyelenggaraan kegiatan ini merupakan wujud penting dari kerja sama antarlembaga untuk memperluas pengalaman belajar dan memperkuat jejaring akademik,” ujar Rektor.

Kepala International Office UPGRIS, Dr. Nur Hidayat, M.Hum., menjelaskan, peserta program ini sungguh beraneka ragam latar belakang. Mereka berasal dari berbagai kawasan dunia. “Tanzania mengirimkan delegasi terbesar, yakni tujuh orang. Mereka adalah Rose John Shiyo, Mudhihir Hassan Mudhihir, Cammy Camilius Chimwaga, Abdallah Khamis Magongo, Lugano Barnabas Mwasampeta, Floranus Gwau Makimi, dan Richard John Kamili.”

Dari Asia Tenggara, terdapat empat peserta asal Timor Leste, yakni Mateus Da Costa Soares, Ludovikus Rubenson Atawolo Correia, Angelina Pereira Mariz, dan Veronica Imaculada da Conceicao. Sementara itu, Tajikistan mengirimkan dua peserta, Sobir Jumaev dan Aiyomiddini Suhrobi Safaralizoda.

Lima peserta lainnya berasal dari negara dan wilayah berbeda. Mereka adalah Assem Appaz dari Kazakhstan, Chia Louis Deng dari Kamerun, Lesta Mufudzi Dube dari Zimbabwe, Kemumuine Kasetura dari Namibia, Amelia Bedelia Kere dari Kepulauan Solomon, Sereana Tamata Bule dari Vanuatu, serta Wen Ying Tseng dari Taiwan.

Kepala Bagian Kerja Sama dan Luar Negeri UPGRIS, Prof. Mega Novita, Ph.D., mengatakan, program ini berlandaskan tiga gagasan utama, yaitu Create, Explore, dan Connect. Peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman praktik teknologi atau inovasi pangan, tetapi juga diajak mengamati lingkungan perkotaan dan membangun interaksi dengan masyarakat serta peserta dari latar belakang budaya berbeda.

Melalui pendekatan tersebut, UPGRIS berharap mahasiswa internasional dapat meningkatkan keterampilan praktis, memperluas jaringan kolaborasi, dan menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di masyarakat.

Kepala International Office Unnes, Rimasari Pramesti Putri, S.Pd., M.Pd., menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi program yang menjadi tindak lanjut kerja sama dengan UPGRIS sekaligus membuka peluang lebih luas bagi pengembangan hubungan internasional ant perguruan tinggi.

Bagi UPGRIS, kegiatan ini menjadi upaya menerjemahkan kerja sama internasional ke dalam pengalaman belajar yang konkret. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari keragaman negara peserta, tetapi juga dari peluang pertukaran pengetahuan dan gagasan untuk menjawab tantangan keberlanjutan.(*)