Gelar Bedah Buku, S2 PBSI UPGRIS dalami Pengetahuan dan Pengalaman dalam Puisi

Puisi tidak sekadar menyimpan pengalaman personal penyair. Di dalamnya juga terkandung pengetahuan, cara manusia memahami dunia, serta relasi dengan lingkungan yang kerap luput dari perhatian.

Gagasan tersebut menjadi pembahasan dalam Bedah Buku dan Dialog Sastra bertajuk “Puisi, Air, dan Ekologi Makna: Membaca Relasi Manusia dengan Dunia” di Gedung Pascasarjana Universitas PGRI Semarang, 6 November 2026 di lantai 5 Gedung Pascasarjana UPGRIS.

Diskusi ini mengundang pembicara dosen Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., beserta penulis buku “Ksatria Air”, Prof. Dr. Harjito, M.Hum., dan dimoderatori oleh Dr. Nazla Maharani Umaya, M.Hum.

Dalam dialog tersebut, Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., menjelaskan bahwa puisi merupakan medium pencatatan pengalaman sekaligus pengetahuan yang dimiliki penyair.

Berbeda dengan tulisan prosa yang dapat menguraikan gagasan secara panjang, puisi mengandalkan konvensi bahasa, kepadatan kata, dan kemampuan menghadirkan makna melalui pilihan diksi yang terbatas.

“Puisi mencatat pengalaman dan pengetahuan yang coba dicatat oleh penyair. Mencatat dalam konvensi puisi, yang tidak terlalu panjang lantaran pilihan kata yang dipilih mewakili banyak hal,” kata Aprinus.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa karya sastra memiliki kemungkinan untuk dibaca melampaui persoalan estetika. Puisi juga dapat menjadi ruang untuk memahami hubungan manusia dengan alam, serta merekam perubahan cara pandang terhadap dunia yang terekam dalam pengalaman personal manusia.

“Di situ pula berdiam pengetahuan, sehingga puisi punya potensi untuk dilihat sebagai produk budaya yang menyimpan pengetahuan,” tambahnya.

Sementara itu, Prof. Harjito, M.Hum., mengungkapkan, proses penulisan buku yang dibedah dalam forum tersebut telah berlangsung sejak 1980-an. Namun, perjalanan panjang itu baru berujung pada penerbitan setelah dirinya merasa memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk memublikasikannya.

“Proses menulis ini berlangsung lama, sejak 1980-an. Tapi baru memiliki kepercayaan diri untuk menerbitkannya sekarang,” ujar Harjito.

Dialog sastra tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan antara penulis, pembaca, dan akademisi untuk mendiskusikan bagaimana puisi dapat menyimpan pengetahuan serta membuka perspektif baru tentang hubungan manusia dengan lingkungan.(*)