Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (LSP UPGRIS) perkuat layanan sertifikasi melalui 59 dosen yang telah bersertifikat asesor dan instruktur dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi(BNSP). Penguatan ini sebagai peningkatan kualitas lulusan di tengah ketatnya persaingan dunia kerja.
Rektor UPGRIS, Dr. Sri Suciati, M.Hum., mengatakan penambahan jumlah asesor dan instruktur di LSP UPGRIS untuk meningkatkan kualitas lulusan. Meskipun keterserapan lulusan UPGRIS di dunia kerja dan industri sudah sangat baik.
“Kita tidak hanya mempertahankan, tapi akan terus harus meningkatkan. Lulusan yang punya keterampilan pasti akan jauh lebih percaya diri ketika mereka bersaing dengan lulusan dari berbagai perguruan tinggi,” katanya usai acara penyerahan sertifikat calon asesor dan calon instruktur di gedung pusat, Selasa, 14 April 2026.
Untuk mendukung itu, lanjut dia, pihaknya terus melakukan peningkatan sarana pendukung uji kompetensi di LSP UPGRIS. Tidak hanya itu, jumlah skema sertifikasi kompetensi juga akan ditambah lagi untuk memberikan pilihan mahasiswa yang sesuai dengan program studinya.
“Sekarang kita memiliki 5 skema ditambah 17 skema kompetensi baru, dan akan kita upayakan untuk 25 skema. Laboratorium yang disiapkan di Universitas PGRI Semarang jadi multifungsi, tidak hanya untuk riset dan praktek, tetapi juga untuk uji kompetensi dari skema yang sudah kita miliki,” ujarnya.
Menurutnya, semua skema yang ada di Universitas PGRI Semarang merupakan pilihan dari ribuan skema yang ada di BNSP. Skema pilihan ini akan diintegrasikan dengan program studi yang ada di Universitas PGRI Semarang.
“Skema kita pilih yang akan men-support kompetensi sesuai dengan program studi mahasiswa. Jadi, tidak ada skema LSP yang nantinya akan sia-sia karena akan mendukung kompetensi utama di program studi masing-masing,” ucapnya.
Ia juga menegaskan, dengan sertifikat kompetensi akan menjadikan lulusan UPGRIS beda dengan lulusan dari perguruan tinggi lain. Semua program studi akan didorong untuk memiliki skema kompetensi dari BNSP yang mempercepat lulusan terserap di dunia kerja.
“Keterserapan lulusan kita mencapai lebih dari 90 persen kurang dari 6 bulan. Kita mendapatkan penghargaan, di mana IKU kita menjadi peringkat 1 di seluruh Indonesia,” katanya.
Kepala LSP UPGRIS, Dr. Perdana Afif Luthfy, M.T., mengungkapkan, pihaknya terus berupaya upaya dalam peningkatan daya saing mahasiswa dan lulusan. Hal itu diwujudkan melalui skema sertifikasi kompetensi.
“Saat ini kami sedang dalam proses pengajuan skema sertifikasi untuk tiga program studi (prodi) dari Teknik Sipil, Arsitektur, dan Hukum. Prodi Bisnis Digital akan mengajukan skema baru untuk sosial media engineer selain digital marketing yang sudah ada,” ungkapnya.
Dari semua skema yang ada di UPGRIS, lanjutnya, skema sertifikasi pengelolaan media pembelajaran multimedia menjadi yang paling banyak diminati. Sejak awal didirikan sejak April 2023, LSP UPGRIS telah menguji ribuan mahasiswa untuk mendapatkan sertifikat kompetensi.
“Skema sertifikasi pengelolaan media sosial dengan 1.806 mahasiswa dan lulusan telah tersertifikasi sejak 1 April 2023. Total mahasiswa dan lulusan yang tersertifikasi BNSP hingga saat ini ada 2.694 orang,” ucapnya.
Setelah menerima sertifikat, 59 dosen UPGRIS menjalani pelatihan Asesor Kompetensi BNSP pada 14 – 15 April 2026. Adapun pelatihan menghadirkan narasumber antara lain Dr. Muniroh Munawar, S.Pi., M.Pd., Dr. Perdana Afif Luthfy M.T., Dr. Bagus Ardi Saputro M.Pd., Dr. Mei Fita Asri Untari, M.Pd., Dr. Riris Setyo Sundari M.Pd., dan Praptining Rahayu, M.Pd. (*)

