Dua Dosen UPGRIS Ikuti Program Fellowship Riset Internasional di India

Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring akademik internasional. Untuk kali ini melalui partisipasi dosennya pada program riset bergengsi tingkat global.

Dua dosen UPGRIS mendapatkan kesempatan mengikuti Naveen Jindal Young Global Research Fellowship (2026–2027) yang diselenggarakan oleh O.P. Jindal Global University (JGU), India.

Dua dosen yang terpilih dalam program tersebut adalah Yosi Gumala, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), serta Muhammad Nur Huda, S.Pd., M.A.E.Ed., Ph.D., dosen Program Studi Manajemen Pendidikan.

Keduanya akan mengikuti program fellowship di India selama satu bulan penuh, mulai 08 Juni hingga 07 Juli 2026. Program Naveen Jindal Young Global Research Fellowship merupakan salah satu program internasional yang rutin diselenggarakan oleh O.P. Jindal Global University, India.

Program tersebut dirancang untuk mempertemukan akademisi muda, peneliti, dan dosen dari berbagai negara guna memperkuat kapasitas penelitian, kolaborasi akademik, serta pengembangan jejaring internasional dalam bidang pendidikan dan riset multidisipliner.

Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi dan pesan khusus kepada kedua dosen yang akan berangkat ke India. Menurutnya, kesempatan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga membawa nama besar universitas di tingkat internasional.

Rektor menegaskan bahwa kedua dosen tersebut merupakan representasi UPGRIS dalam forum internasional. Oleh sebab itu, profesionalisme, etika akademik, serta kemampuan membangun relasi global harus dijaga selama mengikuti program berlangsung.

“Atribut kalian adalah UPGRIS. Setelah mendapatkan ilmu yang bermanfaat di India, kita harus memastikan bahwa hasil dari program tersebut akan bermakna dan berdampak. Berdampak pada masyarakat. Hasil dari produk universitas harus berdampak,” tegasnya.

Lebih lanjut, Rektor berharap pengalaman internasional yang diperoleh dapat memperkuat budaya riset di lingkungan kampus. Selain itu juga ditegaskan pentingnya mendorong lahirnya inovasi akademik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Rektor menekankan pentingnya hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti hanya pada publikasi ilmiah, tetapi mampu memberi kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan pembangunan sosial.

Sementara itu, Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UPGRIS, Dr. Nur Hidayat, M.Hum., menjelaskan bahwa program fellowship tersebut berfokus pada penguatan kompetensi penelitian dan kolaborasi akademik lintas negara. Menurutnya, para peserta nantinya akan mengikuti berbagai agenda pelatihan, diskusi akademik, seminar internasional, hingga pengembangan proposal penelitian bersama.

“Program ini memang rutin diselenggarakan oleh Jindal University. Ujungnya adalah pelatihan research dan produknya adalah penelitian. Mereka akan bertemu dengan peneliti dari beberapa negara dan bekerja sama dengan Jindal Global University,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterlibatan dosen UPGRIS dalam forum internasional menjadi bagian dari upaya universitas dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas pengakuan internasional terhadap institusi. Selain itu, pengalaman tersebut diharapkan mampu memperkuat implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pada aspek penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Partisipasi dosen UPGRIS dalam program internasional ini juga menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing dan berkolaborasi di tingkat global.

Dengan semakin banyaknya dosen yang terlibat dalam jejaring akademik internasional, UPGRIS optimistis mampu terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan inovasi yang berdaya saing global namun tetap berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (*)