Limbah kopi yang selama ini kerap berakhir sebagai sampah ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi. Gagasan tersebut diperkenalkan Amelia Yuan Oktavia, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), melalui pelatihan pemanfaatan limbah kopi bagi santriwati Pondok Pesantren Yanbu’ul Huda, Desa Wonodadi, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal.
Pelatihan yang menjadi bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahesa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UPGRIS itu berlangsung pada 2 Juli 2026 dan diikuti 25 santriwati. Kegiatan tersebut dirancang sebagai upaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengembangkan jiwa kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Pemilihan limbah kopi sebagai bahan pelatihan bukan tanpa alasan. Desa Wonodadi dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi di Kabupaten Kendal. Di tengah melimpahnya produksi kopi, ampas kopi dari aktivitas pengolahan maupun konsumsi sehari-hari umumnya belum dimanfaatkan secara optimal dan masih banyak dibuang begitu saja.
Melalui pelatihan tersebut, Amelia mengajak para santriwati mengubah limbah kopi menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah, yakni lilin aromaterapi, sabun cuci piring, pupuk organik, dan jelly kopi. Seluruh peserta terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan, mulai dari proses pengeringan ampas kopi, pencampuran bahan, pencetakan, hingga pengemasan produk.
Menurut Amelia, ampas kopi masih memiliki beragam kandungan yang dapat dimanfaatkan. Aroma alaminya dapat digunakan sebagai bahan lilin aromaterapi, teksturnya cocok sebagai bahan pembersih pada sabun cuci piring, sementara kandungan organiknya bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.
“Ampas kopi sebenarnya masih memiliki banyak manfaat. Saya berharap para santriwati dapat melihat bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sampah justru memiliki peluang untuk diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi,” ujarnya.
Pelatihan berlangsung interaktif. Para santriwati aktif mengajukan pertanyaan mengenai komposisi bahan, teknik pembuatan, hingga peluang mengembangkan produk sebagai usaha mandiri di lingkungan pondok pesantren. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa pengelolaan limbah tidak hanya dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk pengembangan ekonomi kreatif.
Pengasuh dan pengurus Pondok Pesantren Yanbu’ul Huda menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka berharap keterampilan yang diperoleh para santriwati dapat terus dikembangkan sebagai bekal kecakapan hidup sekaligus membuka peluang usaha yang memanfaatkan potensi lokal desa.
Program pelatihan ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa melalui KKN Mahesa BEM UPGRIS. Selain mendorong pengelolaan sampah organik yang lebih baik di lingkungan pesantren, kegiatan tersebut juga memperkenalkan pendekatan sederhana dalam memanfaatkan potensi kopi lokal sebagai sumber inovasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.(*)

