Dari Jepara Menuju Panggung Prestasi, Deva Berkembang Bersama Dukungan UPGRIS

Bakat kerap tumbuh dari ruang-ruang sederhana. Begitu pula perjalanan Deva Destianto, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), yang berhasil meraih Juara III cabang Komik Strip pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2026.

Prestasi tersebut bukan semata hasil kemampuan menggambar, melainkan buah dari ketekunan yang dipupuk sejak kecil. Juga lingkungan kampus yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensinya.

Deva lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 7 Desember 2003, tetapi dibesarkan di Desa Tahunan Wonosari, RT 02 RW 05, Kabupaten Jepara. Anak tunggal pasangan Riyanto dan Sartini itu mengenang masa kecilnya sebagai bagian dari keluarga sederhana yang mengajarkannya arti kerja keras.

Kesederhanaan itu sempat membuatnya merasa minder dan kurang percaya diri ketika harus mencoba hal-hal baru. Perasaan tersebut perlahan berubah ketika ia menemukan dunia ilustrasi. Ketertarikannya muncul saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Tepatnya ketika kelas lima hingga enam.

Berbagai serial anime Jepang seperti Naruto, Dragon Ball, dan One Piece memperkenalkannya pada gaya visual yang berbeda dengan tontonan yang biasa ia saksikan. Beruntung, kedua orang tuanya tidak pernah menghalangi hobi tersebut. Mereka memberi kebebasan kepada Deva untuk menekuni dunia gambar, meski berasal dari keluarga dengan segala keterbatasan. Dukungan itu menjadi bekal penting yang terus ia bawa hingga memasuki bangku kuliah.

Saat menjadi mahasiswa UPGRIS, minat yang selama ini tumbuh sebagai hobi memperoleh ruang pengembangan yang lebih luas. Kampus tidak hanya menempatkan mahasiswa sebagai peserta perkuliahan. Tetapi juga memberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kompetisi.

Iklim akademik yang mendorong kreativitas membuat Deva semakin percaya diri mengasah kemampuannya hingga mampu bersaing pada ajang Peksimida Jawa Tengah. Dalam setiap karya, Deva selalu memulai dengan menentukan tema, menyusun konsep, mencari referensi visual, kemudian mengolahnya secara digital melalui proses sketsa, line art, pewarnaan, pencahayaan, hingga penyelesaian akhir. Baginya, ilustrasi bukan sekadar gambar yang indah dipandang, tetapi media untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Perjalanan kreatifnya juga dipengaruhi banyak tokoh. Selain mengagumi Masashi Kishimoto, kreator Naruto, ia menjadikan ilustrator Indonesia Desar Yuartha dan komikus Bryan Arfiandy sebagai sumber inspirasi dalam membangun karakter visual yang kuat. Kehadiran para kreator tersebut semakin meyakinkannya bahwa ilustrasi dapat menjadi profesi sekaligus media edukasi yang bernilai.

Prestasi yang diraih Deva menjadi salah satu gambaran bagaimana UPGRIS memberikan dukungan kepada mahasiswa untuk berkembang sesuai bakat masing-masing. Kampus tidak hanya memfasilitasi proses akademik, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkarya, berkompetisi, dan mengharumkan nama institusi melalui berbagai bidang, termasuk seni.

Bagi Deva, keberhasilan di Peksimida bukanlah tujuan akhir. Ia memiliki cita-cita menjadi guru yang mampu menginspirasi peserta didik melalui karya ilustrasi. Ia ingin membuktikan bahwa seorang pendidik dapat menyampaikan nilai-nilai pembelajaran dengan cara yang kreatif, sehingga ilmu pengetahuan lebih mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan siswa.(*)