Hadirkan Ferry Irwandi, UPGRIS Dorong Mahasiswa Menguasai Seni Bercerita di Tengah Arus Informasi Digital

Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan saja tidak lagi cukup bagi generasi muda. Di tengah banjir informasi yang bergerak cepat melalui berbagai platform digital, kemampuan menyampaikan gagasan secara jernih, meyakinkan, dan bermakna menjadi kompetensi yang semakin menentukan.

Berangkat dari kesadaran itu, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dengan praktisi komunikasi publik melalui Seminar dan Interactive Talk bertajuk The Art of Storytelling: Mengubah Gagasan Menjadi Dampak, Memberi Makna di Era Digital.

Kegiatan ini bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-45 UPGRIS. Diikuti sekitar 688 peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga pelajar sekolah menengah. Antusiasme peserta yang melampaui target penyelenggara menunjukkan bahwa keterampilan berkomunikasi kini dipandang sebagai kebutuhan, bukan lagi sekadar pelengkap dari kompetensi akademik.

Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan lulusan yang mampu menjawab tantangan zaman.

“Pendidikan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan sumber daya manusia yang menguasai disiplin ilmu, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu mengartikulasikan gagasan, membangun dialog, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.”

Karena itu, Rektor menegaskan UPGRIS terus menghadirkan berbagai ruang pembelajaran yang memperkaya pengalaman mahasiswa di luar perkuliahan. Pertemuan dengan tokoh dari berbagai bidang dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan. Hal itu memberi kesempatan mahasiswa memahami dinamika dunia kerja, perkembangan teknologi, sekaligus perubahan cara masyarakat berkomunikasi.

Dalam seminar tersebut, kreator konten edukatif Ferry Irwandi mengajak peserta melihat storytelling sebagai keterampilan yang dapat dipelajari siapa saja. Menurutnya, kemampuan bercerita bukan semata-mata bakat alami, melainkan hasil dari proses belajar, latihan, dan keberanian untuk terus menyampaikan gagasan kepada publik.

“Manusia pada dasarnya lebih mudah memahami sebuah cerita daripada sekadar menerima deretan data. Sebuah narasi menghadirkan konteks, membangun kedekatan emosional, sekaligus membantu audiens menangkap makna yang ingin disampaikan,” ucapnya.

Bahkan ketika teknologi kecerdasan artifisial berkembang pesat, kemampuan menyusun cerita yang lahir dari pengalaman, empati, dan sudut pandang manusia tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan.

Ferry juga mengingatkan pentingnya mengenali karakter audiens sebelum menyampaikan pesan. Cara bertutur, pilihan kata, hingga pendekatan yang digunakan perlu disesuaikan dengan siapa yang diajak berbicara. Komunikasi yang efektif, menurutnya, bukan hanya soal berbicara dengan baik, melainkan memastikan pesan benar-benar dipahami dan memberi pengaruh positif.

Bagi UPGRIS, penguatan keterampilan semacam itu menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi informasi, kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi, dan mengomunikasikan gagasan secara bertanggung jawab merupakan bekal penting bagi generasi muda. (*)