Universitas PGRI Semarang terus memperkuat transformasi digital di lingkungan kampus melalui pengembangan Sistem Laboratorium Berbasis ISO (SILABISO). Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kualitas pelayanan universitas. Terutama pada bidang tata kelola laboratorium. Tujuannya agar lebih sesuai dengan prinsip Sistem Manajemen Mutu berbasis ISO.
Penerapan sistem tersebut diperkenalkan kepada para pengelola laboratorium melalui Pelatihan Sistem Laboratorium Berbasis ISO (SILABISO) yang diselenggarakan pada 13 Juli 2026 di Gedung Pusat Lantai 2 UPGRIS. Kegiatan yang digagas oleh Wakil Rektor II itu diikuti seluruh kalab (kepala laboratorium) beserta jajaran staf laboran dari berbagai program studi. Total ada sejumlah 42 peserta.
Wakil Rektor II UPGRIS, Prof. Dr. Endah Rita SD, S.Si., M.Si., mengatakan, pengembangan SILABISO merupakan langkah strategis untuk meningkatkan mutu pengelolaan laboratorium di lingkungan kampus. Melalui sistem tersebut, seluruh proses administrasi laboratorium, mulai dari pengelolaan inventaris, peminjaman sarana dan prasarana, pengarsipan dokumen, hingga pelaporan kegiatan dapat dilakukan secara terintegrasi dalam satu platform.
“Adanya sistem ini untuk memperkuat budaya kerja berbasis kualitas. Ini juga menjadi bukti kalau kampus kita mengimplementasikan transformasi digital dalam mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ucapnya. Menurut Warek II, tujuan utama SILABISO adalah mewujudkan tata kelola laboratorium yang lebih efektif dan terdokumentasi sesuai prinsip Sistem Manajemen Mutu berbasis ISO.
Kehadiran sistem tersebut diharapkan mampu mempermudah pengelola laboratorium dalam melakukan monitoring, meningkatkan kualitas pelayanan kepada sivitas akademika, sekaligus mendukung proses audit dan evaluasi secara berkelanjutan.
Salah seorang narasumber pelatihan, Aris Trijoko Harjanto, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa SILABISO tidak sekadar berfungsi sebagai aplikasi administrasi laboratorium. Namun, sistem ini adalah instrumen tata kelola yang mendorong terciptanya budaya kerja berbasis mutu. Integrasi layanan dan pengelolaan data menjadi lebih sistematis.
“Semua layanan akan terintegrasi. Pengelolaan datanya terstruktur, pembagian hak aksesnya jelas, dan dokumentasinya lengkap. Sistem ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan laboratorium kepada sivitas akademika sehingga seluruh proses administrasi maupun pendataan menjadi lebih mudah,” katanya.
Melalui sistem ini, berbagai layanan laboratorium, seperti pengelolaan inventaris dan peminjaman barang dan ruangan, hingga penyampaian informasi kepada pengguna laboratorium dapat dilakukan secara digital. Dampak positifnya, proses pelayanan menjadi lebih cepat dan mudah ditelusuri ketika diperlukan.
UPGRIS berharap pelatihan SILABISO menjadi langkah awal bagi seluruh pengelola laboratorium untuk mengimplementasikan sistem tersebut secara optimal. Penerapan tata kelola laboratorium berbasis digital diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa dan dosen, tetapi juga memperkuat kesiapan institusi dalam memenuhi standar mutu pengelolaan laboratorium di perguruan tinggi.(*)

