Literasi Budaya di Era Disrupsi

Saat ini, gerakan literasi tersebut sedang menghadapi fenomena disrupsi. Fenomena disrupsi merupakan suatu peristiwa terjadinya perubahan yang bersifat mendasar dengan adanya evolusi teknologi. Pada era disrupsi ini, hampir semua aspek kehidupan dapat digantikan oleh teknologi yang sangat berpengaruh pada dunia pendidikan. Banyak sekali inovasi pembelajaran yang berkembang, contohnya Artificial Intelligence (AI) suatu mesin kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu siswa mendapatkan pembelajaran yang bersifat individual. Tentu hal ini lambat laun akan menggeser posisi guru dan proses belajar mengajar. Hal ini akan memunculkan beragam pertanyaan seperti “Masih perlukah guru pada masa yang akan datang?” atau “Bagaimana peran guru di dunia pendidikan pada era disrupsi ini?” atau “Dapatkah literasi budaya menjawab tantangan pendidikan pada era disrupsi saat ini?” Beberapa pendapat menyatakan bahwa dalam hal informasi guru tidak mungkin mampu bersaing dengan teknologi yang berkembang saat ini.

Di era disrupsi yang serba digital ini, begitu pentingnya seorang pendidik menumbuhkan dan membentuk karakter peserta didik guna memanfaatkan teknologi dengan tepat. Sikap transfer of values atau keteladanan pendidik kepada peserta didik harus dilakukan dalam bentuk pengamalan sikap dan nilai-nilai luhur. Pepatah mengatakan “orang bukan melakukan apa yang anda katakan tetapi apa yang anda lakukan.” Hal ini, pendidik masih memiliki peran penting di era disrupsi digital.

Pipit Mugi Mandayani, SS MA Ketua panitia menuturkan Kondisi tersebut yang mengugah Seminar Nasional Literasi (SEMITRA) IV sekaligus pengajar di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) untuk berperan serta mempersiapkan guru-guru dan calon guru dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan melalui literasi budaya di era disrupsi. Oleh karena itu, kami bermaksud mengadakan seminar pendidikan bahasa dengan tema “menjawab tantangan pendidikan melalui literasi budaya pada era disrupsi”. Semitra IV akan diselenggarakan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang, 14 November 2019 di Aula Lantai 6 Gedung A Kampus IV Universitas PGRI Semarang Jalan Gajah Raya 40 Sambirejo, Gayamsari, Semarang.

Dekan FPBS Dr Asropah MPd menambahkan bahwa tujuan membangun kesadaran literasi budaya dalam menghadapi tantangan pendidikan pada era disrupsi. Mempersiapkan guru dan calon guru untuk menghadapi tantangan pendidikan melalui literasi budaya pada era disrupsi. Menguatkan peran strategis guru dalam pembelajaran bahasa melalui literasi budaya pada era disrupsi. Meningkatkan kualitas pengajaran guru dan calon guru melalui literasi budaya dalam menghadapi tantangan pada era disrupsi,” Imbuh Asropah.

Prof Dr Subyantoro MHum menuturkan Pendidik wajib menanamkan sifat kepemimpinan dalam memberikan contoh di depan sebagai suri tauladan. “Ide, motivasi, dukungan dari peserta didik, orang tua, dan pendidik diperlukan untuk membangun situasi belajar, mewujudkan terciptanya capaian pendidikan yang kita harapkan. Semboyan Ki Hajar Dewantara dapat kita jadikan pijakan dalam membangun taraf pendidikan demi terciptanya calon generasi pemimpin bangsa,”imbuh Subyantoro.

Leave a Reply