Pendanaan Eksternal Bukan Sekadar Prestasi, tetapi Prestise

Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) terus mendorong para dosennya untuk memperluas akses pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dari berbagai sumber eksternal. Salah satu langkah yang ditempuh ialah melalui Pelatihan Penyusunan Proposal RIIM BRIN Tahun 2026 yang digelar di Gedung Pusat Lantai 2 UPGRIS, Kamis 18 Juni 2026.

Kegiatan yang mengangkat tema “Strategi Jitu Lolos Hibah RIIM BRIN Tahun 2026” tersebut diselenggarakan oleh Pusat Unggulan Inovasi, Hilirisasi, dan Inkubator Bisnis Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPGRIS.

Kepala LPPM UPGRIS Prof. Dr. Wiyaka, M.Pd., mengatakan bahwa perguruan tinggi perlu membuka lebih banyak peluang pendanaan dari luar kampus untuk mendukung produktivitas riset dosen. Menurut dia, pendanaan eksternal tidak hanya memberikan manfaat dari sisi finansial, tetapi juga menjadi pengakuan atas kualitas penelitian yang dilakukan.

“Upaya ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk meraih cita-cita dan memberikan kesempatan kepada dosen agar dapat memperoleh pendanaan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat yang bersumber dari luar UPGRIS. Nilai pendanaannya cukup besar. Ketika mendapatkan pendanaan dari luar, itu bukan hanya prestasi, tetapi juga prestise,” ujar Wiyaka.

Wiyaka menambahkan, saat ini terdapat kecenderungan menurunnya jumlah hibah penelitian yang diterima dari sejumlah sumber pendanaan yang selama ini menjadi andalan. Kondisi tersebut mendorong perguruan tinggi untuk mencari alternatif pendanaan lain yang potensial.

Menurut Wiyaka, peluang tersebut salah satunya datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang membuka berbagai skema pendanaan riset. Bahkan beberapa program menawarkan pendanaan multiyears atau tahun jamak yang memungkinkan penelitian dilakukan secara lebih berkelanjutan.

“Ada tren penurunan penerimaan hibah dan riset. Karena itu, kita mencoba peluang lain agar bisa menjadi alternatif. Pendanaan dari luar tidak hanya berasal dari kementerian. BRIN ternyata membuka kesempatan yang sangat baik, termasuk pendanaan riset dengan skema multitahun,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Unggulan Inovasi, Hilirisasi, dan Inkubator Bisnis LPPM UPGRIS Dr. Muhtarom, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut diikuti oleh 35 dosen dari berbagai program studi. Dari jumlah tersebut, sebanyak enam proposal telah masuk dan akan mendapatkan umpan balik secara langsung dari narasumber.

“Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh masukan untuk menyempurnakan proposal yang telah disusun. Harapannya, peluang dosen UPGRIS untuk lolos pendanaan BRIN menjadi lebih besar,” ujar Muhtarom.

Ia juga menambahkan bahwa program pendanaan BRIN tidak hanya dapat diikuti oleh dosen, tetapi juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan riset yang didanai.

Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber Dr. Ika Maryani, M.Pd., dosen Universitas Ahmad Dahlan, yang berbagi pengalaman dan strategi dalam menyusun proposal kompetitif agar mampu bersaing pada skema pendanaan RIIM BRIN tahun 2026.

Melalui kegiatan ini, UPGRIS berharap semakin banyak dosen yang berhasil memperoleh hibah riset eksternal sekaligus meningkatkan kontribusi perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.(*)