Praktisi Soroti Pentingnya Kemampuan “Menjual Diri” Para Lulusan Baru

Kemampuan akademik saja dinilai belum cukup untuk membawa lulusan perguruan tinggi menembus dunia kerja. Ada pertimbangan lain bagi sebuah perusahaan untuk merekrut tenaga kerja baru muda. Terutama mereka yang lulusan baru (fresh graduate).

“Bagi saya, lolos TKA itu kemampuan otak. Tapi kalau lolos wawancara, berarti anak ini bisa kerja,” ucap Rizki Nuansa Hadyan, S.Psi., M.M., Psikolog, yang juga menjabat sebagai Ketua PMSM DPD Jawa Tengah dan Area Director GNIK Pekalongan Raya kegiatan Focus Group Discussion (FGD) di Ruang Rapat Senat Gedung Pusat lantai 5.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Jawa Tengah bersama Program Studi S1 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Senin 4 Mei 2026. Rizki menekankan pentingnya kemampuan non-teknis atau soft skill bagi lulusan baru.

“Keberhasilan dalam tahap seleksi administrasi dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) belum tentu menjamin seseorang diterima bekerja jika tidak diimbangi kemampuan berkomunikasi dan menampilkan diri saat wawancara.”

Ia menegaskan bahwa tahap wawancara menjadi penentu utama karena perusahaan ingin melihat kesiapan kandidat dalam berinteraksi, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan secara jelas. Oleh karena itu, lulusan dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menunjukkan kompetensinya secara nyata.

Rizki menyoroti pentingnya perkenalan diri sebagai kunci utama dalam proses wawancara. Ia menyebut bahwa dalam waktu singkat, bahkan hanya sekitar 30 detik, pelamar kerja harus mampu “menjual diri” dengan efektif.

“Perkenalan itu kunci. Tiga puluh detik menjual diri. Kemampuan menjual diri itu penting bagi lulusan baru,” tegasnya. Kemampuan tersebut mencerminkan sejauh mana seseorang memahami potensi dirinya sekaligus mampu mengomunikasikannya kepada orang lain.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kemampuan “menjual diri” bukan sekadar berbicara, melainkan bagian dari soft skill yang mencakup kepercayaan diri, kejelasan komunikasi, serta kemampuan menyusun narasi tentang kompetensi yang dimiliki.

Jika seseorang tidak mampu menyampaikan keunggulannya, maka hal itu menunjukkan lemahnya penguasaan soft skill. Padahal, dunia kerja saat ini menuntut keseimbangan antara kemampuan teknis dan kemampuan interpersonal.

Dalam kesempatan itu, Rizki juga menekankan pentingnya pengalaman berorganisasi bagi mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa yang aktif dalam organisasi cenderung lebih terbiasa bekerja sama, beradaptasi, dan berkomunikasi dengan berbagai pihak.

Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan untuk mengkuantifikasi diri, yakni menjelaskan pencapaian dan kontribusi secara terukur. Melalui kegiatan FGD ini, diharapkan ada sinergi antara dunia akademik dan praktisi dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja.

Pada kesempatan tersebut hadir para Kaprodi di lingkungan Universitas PGRI Semarang, beserta segenap pengurus Lembaga Pengembangan Profesi serta Pusat Karir PPL dan Pemagangan UPGRIS.(*)