Mahasiswa Program Studi Informatika Fakultas Teknik dan Informatasi Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Laras Wulansari, mengembangkan Sistem Deteksi Anomali Pemakaian Air (SIPADMA) untuk membantu perusahaan daerah air minum mendeteksi potensi kebocoran jaringan maupun penyimpangan penggunaan air pelanggan secara lebih dini.
Sistem tersebut dikembangkan dalam kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Perumdam Tirta Moedal Kota Semarang Cabang Semarang Timur pada 27 Januari 2026 hingga 27 April 2026. SIPADMA dirancang untuk mengidentifikasi pola konsumsi air yang tidak lazim sehingga dapat menjadi indikator awal adanya kebocoran pipa, pencurian air, maupun kesalahan pencatatan meter pelanggan.
Dalam pengembangannya, SIPADMA memanfaatkan pendekatan anomaly detection menggunakan metode Z-Score yang dipadukan dengan rule-based scoring. Aplikasi dibangun menggunakan bahasa pemrograman Python dengan framework Flask sehingga dapat dioperasikan melalui antarmuka berbasis web. Sistem ini dilengkapi sejumlah fitur, antara lain dashboard pemantauan, unggah data pelanggan, deteksi anomali otomatis, penyaringan berdasarkan tingkat risiko, riwayat penggunaan pelanggan, visualisasi grafik, hingga ekspor laporan dalam format Excel.
Selama tahap pengujian, SIPADMA menganalisis 3.996 data rekening milik 666 pelanggan Perumdam Tirta Moedal yang dihimpun pada periode September 2025 hingga Februari 2026. Dari hasil analisis tersebut, sistem mendeteksi 163 rekening pelanggan atau sekitar 4,1 persen yang menunjukkan indikasi anomali. Sebanyak 147 rekening di antaranya dikategorikan memiliki tingkat risiko sehingga direkomendasikan untuk diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.
Ketua Program Studi Informatika Fakultas Teknik dan Informatika UPGRIS, Bambang Agus Herlambang, S.Kom., M.Kom., mengatakan, pengembangan SIPADMA merupakan implementasi pembelajaran berbasis proyek yang mempertemukan kompetensi mahasiswa dengan kebutuhan nyata di dunia industri. Menurut dia, kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra industri membuka ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan solusi berbasis teknologi yang dapat diterapkan dalam pelayanan publik.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi sarana yang sangat penting dalam menghasilkan solusi berbasis teknologi yang memberikan manfaat nyata. SIPADMA menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu menguasai teori, tetapi juga menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan untuk mendukung transformasi digital sektor pelayanan publik,” ujar Bambang.
Melalui proyek tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam menganalisis kebutuhan industri, merancang sistem berbasis data, mengembangkan aplikasi berbasis web, hingga menerapkan metode kecerdasan buatan untuk menyelesaikan persoalan di lapangan. Di sisi lain, Perumdam memperoleh alternatif perangkat digital yang dapat membantu proses pemantauan penggunaan air secara lebih cepat, objektif, dan berbasis data.
Ke depan, SIPADMA masih berpeluang dikembangkan dengan mengintegrasikan data sensor berbasis Internet of Things (IoT), algoritma machine learning yang lebih adaptif, serta fitur notifikasi secara waktu nyata (real-time). Pengembangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan deteksi dini terhadap kebocoran jaringan distribusi air sekaligus mendukung transformasi digital pelayanan Perumdam kepada masyarakat. (*)

