Di tengah menghangatnya dinamika demokrasi di Indonesia, ruang dialog yang mempertemukan mahasiswa dengan para pemangku kebijakan dinilai semakin penting. Melalui forum tersebut, suara generasi muda dapat didengar secara langsung, sekaligus menjadi bahan refleksi atas praktik demokrasi yang berjalan saat ini.
Gagasan itu mengemuka dalam kegiatan Diskusi Penyerapan Aspirasi Masyarakat MPR RI Tahun 2026 yang menghadirkan Anggota MPR RI Daerah Pemilihan Jawa Tengah, Dr. Muhdi, S.H., M.H. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) itu mengangkat tema “Penguatan Demokrasi Substantif dan Etika Berbangsa”.
Dalam forum tersebut, Muhdi mengatakan bahwa kondisi demokrasi saat ini perlu dicermati secara kritis, terutama dari perspektif mahasiswa. Menurut dia, penting untuk mendengar secara langsung bagaimana pandangan generasi muda terhadap kualitas demokrasi yang berkembang di Indonesia.
“Saat ini dinamika demokrasi sedang hangat. Perlu mendengar secara langsung bagaimana pandangan mahasiswa. Apakah demokrasi sudah menghadirkan keadilan? Hari ini kami merasa perlu menghadirkan forum yang bisa menyerap keresahan mahasiswa saat ini,” ujarnya.
Muhdi menegaskan, demokrasi substantif tidak cukup dipahami sebagai pelaksanaan pemilu atau prosedur politik formal semata. Demokrasi harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui partisipasi publik yang luas, penegakan hukum yang adil, perlindungan hak-hak warga negara, serta pemerintahan yang akuntabel.
Lebih jauh, Muhdi menjelaskan bahwa tujuan akhir demokrasi adalah terwujudnya keadilan dan kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan oleh nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Karena itu, ruang-ruang dialog publik perlu terus diperkuat agar aspirasi masyarakat dapat tersalurkan secara konstruktif.
Rektor Universitas PGRI Semarang, Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, diskusi mengenai demokrasi menjadi sangat relevan dengan situasi kebangsaan saat ini yang menghadapi berbagai tantangan sosial, politik, dan hukum.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini karena sesuai dengan momentum bangsa Indonesia saat ini. Forum seperti ini penting untuk menyerap berbagai isu demokrasi yang berkembang di masyarakat,” kata Rektor.
Rektor menambahkan, nilai-nilai demokrasi harus terus diperkuat dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Demokrasi yang sehat harus menjamin penghormatan terhadap hak asasi manusia, kesetaraan di hadapan hukum, kesempatan yang sama bagi setiap warga negara, serta partisipasi tanpa diskriminasi.
Sementara itu, moderator diskusi, Dr. Agus Sutono, S.Phil., M.Phil., menilai kampus memiliki posisi strategis dalam menumbuhkan budaya demokrasi. Kampus bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan sikap kritis, dialogis, dan bertanggung jawab.
“Perguruan tinggi adalah tempat persemaian demokrasi. Karena itu, kampus sangat tepat menjadi laboratorium demokrasi yang memungkinkan berbagai gagasan dan aspirasi berkembang secara sehat,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, mahasiswa tidak hanya menjadi peserta yang mendengarkan, tetapi juga diajak aktif menyampaikan pandangan dan kritik terhadap berbagai persoalan demokrasi. Dialog semacam ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran kebangsaan sekaligus mendorong lahirnya praktik demokrasi yang lebih substantif, beretika, dan berkeadilan. (*)
Top of Form

