Lewat Educalingua, FPBS UPGRIS Perkuat Peran dalam Jejaring Akademik Dunia

Kemajuan teknologi membuat manusia dari berbagai belahan dunia dapat saling terhubung dalam hitungan detik. Namun, kedekatan secara digital belum selalu diikuti dengan tumbuhnya saling pengertian.

Di tengah situasi itulah, bahasa dipandang tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang perjumpaan antarkebudayaan sekaligus medium diplomasi yang mempertemukan bangsa-bangsa.

Gagasan tersebut mengemuka dalam The 2nd Educalingua International Conference yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), pada 30 Juli 2026 di Gedung Pusat lantai 7. Seminar nasional ini mengusung tema Language, Culture, Education, and Global Diplomacy: Bridging across Nations.

Konferensi itu mempertemukan akademisi dan peneliti dari Filipina, Thailand, Timor-Leste, Pakistan, serta berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mendiskusikan perkembangan pendidikan bahasa, pelestarian budaya, dan tantangan pembelajaran di era digital.

Membuka konferensi tersebut, Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., mengatakan bahwa bahasa merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan antarmanusia.

Menurut Rektor, konferensi Educalingua yang pertama kali digelar dua tahun lalu lahir dari keyakinan bahwa bahasa bukan hanya disiplin ilmu yang diajarkan di ruang kelas. Tetapi jembatan yang menghubungkan masyarakat lintas negara.

Dalam perkembangannya, forum yang semula berskala sederhana itu kini melibatkan enam negara dan sejumlah institusi pendidikan tinggi. “Gagasan mengenai bahasa, budaya, dan pendidikan mampu melampaui batas-batas geografis maupun kebangsaan,” ujar Rektor.

Rektor menilai tema konferensi tahun ini menjadi semakin relevan ketika dunia menghadapi paradoks baru. Teknologi memang mempercepat komunikasi, tetapi tidak serta-merta memperkuat pemahaman antarmanusia.

Karena itu, menurut Rektor, diplomasi tidak semata hadir dalam perundingan resmi antarnegara, melainkan juga tumbuh melalui praktik keseharian, seperti kesediaan untuk mendengarkan, memahami, dan menghormati perbedaan.

Dalam konteks tersebut, bahasa menjadi sarana untuk mewariskan nilai budaya, mentransformasikan pengetahuan, sekaligus membangun kepercayaan di tengah masyarakat global. Konferensi ini hasil kolaborasi UPGRIS dengan Don Mariano Marcos Memorial State University (Filipina), Nakhon Ratchasima Rajabhat University (Thailand), Dili Institute of Technology (Timor-Leste), School Education Department Government of Balochistan (Pakistan), Universitas Riau Kepulauan, Universitas Musamus, STAIN Mandailing Natal, dan Universitas Islam Ogan Komering Ilir Kayuagung.

Kolaborasi tersebut, menurut Rektor, menjadi representasi nyata semangat membangun jejaring akademik lintas negara melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Berbagai isu kontemporer menjadi perhatian dalam konferensi ini.

Ada pula pelestarian warisan budaya melalui teknologi digital, hingga perluasan akses pembelajaran bahasa bagi masyarakat di wilayah pedesaan dan daerah yang masih kurang terlayani. Persoalan-persoalan tersebut dinilai semakin mendesak seiring perubahan lanskap pendidikan global yang dipengaruhi perkembangan teknologi.

Selain menjadi forum diseminasi hasil penelitian, konferensi juga menghadirkan pembicara dari berbagai negara, di antaranya Prof. Dannilyn U. Macato dari Don Mariano Marcos Memorial State University; Prof. Dr. Wiyaka, M.Pd. dari UPGRIS; Asst. Prof. Lawarn Sirisrimangkorn, M.A., Ph.D. dari Nakhon Ratchasima Rajabhat University; Marcos Taec Abi, L.Ed., M.A. dari Dili Institute of Technology; Dr. Dewi Yana, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Riau Kepulauan; serta Wazir Ali Jamali, M.A., M.Ed., M.Phil., dari School Education Department Government of Balochistan.

Para peserta juga memperoleh kesempatan mempublikasikan hasil kajian mereka pada prosiding maupun jurnal ilmiah. Bagi UPGRIS, penyelenggaraan konferensi internasional ini tidak semata dimaknai sebagai agenda akademik tahunan. Forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi perguruan tinggi Indonesia dalam percakapan ilmiah global melalui kolaborasi yang berkelanjutan.

“Kami tidak ingin menjadi perguruan tinggi yang hanya berkarya di dalam tembok kampusnya sendiri, melainkan universitas yang terbuka untuk berkolaborasi, memperluas jejaring, dan membangun jembatan kerja sama dengan berbagai pihak,” kata Rektor sebelum secara resmi membuka The 2nd Educalingua International Conference. (*)