Peralihan dari bangku kuliah ke dunia kerja bukan sekadar perubahan tempat. Lulusan juga harus beradaptasi dengan lingkungan dan tanggung jawab yang baru. Karena itu, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) membekali sekitar 700-an calon wisudawan ke-84 dengan kesiapan menghadapi transisi tersebut.
Pembekalan dilakukan melalui Pelatihan Kesiapan Kerja Mahasiswa Calon Wisudawan ke-84 yang diselenggarakan Pusat Karier, PPL, dan Pemagangan, Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) UPGRIS di Gedung Balairung, Kampus Pusat UPGRIS, Dr. Cipto, Semarang, 1 September 2026.
Ketua Pusat Karier, PPL, dan Pemagangan UPGRIS, Dr. Prasetyo, M.Pd., mengatakan, mahasiswa perlu memahami bahwa kehidupan setelah lulus memiliki karakter berbeda dengan lingkungan akademik. Perguruan tinggi selama ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dalam kondisi yang terarah. Sementara itu, dunia kerja menghadapkan mereka pada situasi yang lebih kompleks dan dinamis.
”Program ini memfasilitasi proses transisi dari dunia akademik menuju dunia kerja,” kata Prasetyo. Menurutnya, kesiapan memasuki dunia kerja tidak cukup hanya dengan mengandalkan kompetensi akademik. Calon lulusan juga perlu membangun mental kerja agar mampu menghadapi tuntutan dan tekanan yang muncul dalam lingkungan profesional.
Kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari proses tersebut. Lulusan baru kemungkinan menghadapi budaya organisasi yang berbeda. Juga pola komunikasi yang lebih beragam, target pekerjaan, tanggung jawab individual maupun tim. Ada pula persoalan yang tidak selalu memiliki jawaban sebagaimana soal-soal di ruang kuliah.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama UPGRIS, Prof. Dr. Nur Khoiri, S.Pd., M.T., M.Pd., mengatakan, selama berada di perguruan tinggi mahasiswa berada dalam lingkungan yang sengaja dikondisikan untuk mendukung proses pembelajaran. Ia mengibaratkan kampus sebagai greenhouse atau rumah kaca. Di dalamnya, mahasiswa mendapatkan lingkungan yang relatif nyaman dan terkontrol agar dapat bertumbuh melalui proses pendidikan.
”Kampus ibarat greenhouse. Di situ mahasiswa dilayani dan dikondisikan dalam situasi belajar yang kondusif. Semua dikondisikan agar proses belajar berlangsung nyaman,” ujar Nur Khoiri saat membuka kegiatan secara resmi. Akan tetapi, kondisi tersebut berbeda ketika mahasiswa memasuki dunia kerja. Mereka akan berhadapan dengan situasi yang sesungguhnya sehingga kemampuan menyesuaikan diri menjadi penting.
”Ketika masuk dunia kerja yang nyata, harus ada persiapan. Menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Pelatihan ini ditujukan untuk itu,” katanya. Menurut Nur Khoiri, kemampuan adaptasi tidak hanya dibutuhkan ketika seseorang pertama kali memperoleh pekerjaan. Kemampuan tersebut juga diperlukan sepanjang perjalanan karier karena lingkungan kerja terus mengalami perubahan.
Pelatihan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kelulusan dari perguruan tinggi merupakan awal dari fase baru. Setelah terbiasa dengan ritme akademik, calon wisudawan perlu membangun kemampuan untuk bekerja, berkomunikasi, mengambil tanggung jawab, menyelesaikan persoalan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Bagi UPGRIS, keberhasilan menyiapkan lulusan bukan hanya memastikan mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Lebih jauh, perguruan tinggi perlu membantu mereka melewati jembatan antara dunia akademik dan dunia kerja agar pengetahuan yang diperoleh di kampus dapat bertransformasi menjadi kemampuan menghadapi kehidupan profesional. (*)

