Siapa bilang jajanan tradisional kalah saing dengan kuliner kekinian? Cilok “2 Putra” racikan Pak Dodi Mulyadi membuktikan sebaliknya. Dengan cita rasa autentik dan saus lekoh khas Jawa Barat yang meresap sempurna, jajanan legend ini berhasil mencuri hati warga Kelurahan Baran Jurang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.
Sebagai program kerja unggulan di bidang UMKM, mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 15 memberikan bantuan berupa stiker gerobak agar usaha ini tampil lebih menarik di mata konsumen pada 8 Agustus 2026.
Program ini berawal dari observasi lapangan yang dilakukan mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 15 terhadap pelaku UMKM di Kelurahan Baran Jurang. Dari hasil observasi, usaha Cilok “2 Putra” dinilai unggul dari sisi rasa dan sudah digemari warga sekitar, namun gerobaknya masih sederhana dan belum memiliki identitas visual atau branding yang khas.
“Dari observasi, kami melihat potensi besar pada UMKM ini dari sisi rasa, tapi belum diimbangi tampilan yang menarik. Karena itu kami fokuskan program kerja pada rebranding visual melalui stiker gerobak,” ujar Dani Kurnia Sandy selaku Koordinator Desa/Ketua Kelompok KKN UPGRIS Kelompok 15.
Cilok, singkatan dari “aci dicolok”, telah lama menjadi camilan favorit masyarakat Sunda. Di tangan Pak Dodi Mulyadi cilok tampil beda lewat sajian saus lekoh khas Jawa Barat yang gurih dan pedas, dipadukan bumbu kacang dan kecap khas hingga menciptakan cita rasa yang sulit ditolak lidah.
“Kuncinya ada di sausnya. Kalau sausnya pas, cilok apa pun jadi nikmat,” ujar Pak Dodi Mulyadi, pemilik usaha Cilok “2 Putra”. Setiap harinya, Pak Dodi Mulyadi mulai berjualan sejak pagi hari dan biasanya sudah habis terjual sebelum sore. Lapaknya yang berlokasi strategis di Kelurahan Baran Jurang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang selalu ramai dikunjungi pelanggan, mulai dari anak sekolah, pekerja kantoran, hingga keluarga.
Keunikan Cilok “2 Putra” tak lepas dari proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional. Adonan aci diracik dengan takaran khusus, dibentuk bulat dengan tangan, direbus hingga kenyal, lalu disiram saus lekoh panas yang menjadi ciri khasnya. Harga yang terjangkau turut menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli dari berbagai kalangan.
Sebagai bentuk pendampingan, mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 15 memberikan bantuan stiker gerobak dengan desain menarik dan informatif agar usaha ini semakin mudah dikenali dan tampil lebih profesional.
“Alhamdulillah, gerobak jadi lebih menarik, banyak yang jadi penasaran dan mampir gara-gara lihat stikernya,” ujar Pak Dodi Mulyadi menanggapi bantuan tersebut.
Pak Ridwan Sebagai Ketua RT 04 KKN UPGRIS Kelompok 15, berharap program ini dapat membantu meningkatkan eksposur dan omzet UMKM Cilok “2 Putra”. “Kami ingin UMKM lokal seperti ini naik kelas dan makin dikenal luas, tidak hanya oleh warga sekitar tapi juga masyarakat dari luar daerah,” ujarnya.
Ke depannya, tim KKN UPGRIS Kelompok 15 berencana terus mendampingi pelaku UMKM di Kelurahan Baran Jurang, baik melalui bantuan branding, promosi digital, pengemasan produk, maupun pelatihan manajemen usaha.(*)

