Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan terus dibangun melalui langkah-langkah sederhana. Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 28 melaksanakan kegiatan pemasangan plang informasi jenis sampah anorganik dan Bank Sampah di Dukuh Waruk, Desa Karangawen. Kegiatan tersebut dihadiri oleh warga setempat dan mahasiswa KKN yang bersama-sama bergotong royong dalam proses pemasangan.
Pemasangan plang ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah. Melalui informasi yang terpasang di lingkungan warga, masyarakat dapat lebih mudah mengenali jenis-jenis sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kaleng, kemasan plastik, dan berbagai barang lain yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Tidak berhenti pada pemilahan, mahasiswa KKN juga mengenalkan konsep Bank Sampah sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sampah anorganik yang telah dipilah dapat dikumpulkan dan dikelola kembali sehingga tidak langsung berakhir sebagai limbah yang mencemari lingkungan.
Kegiatan berlangsung dalam suasana gotong royong dan kekeluargaan. Mahasiswa bersama warga turut mempersiapkan lokasi, melakukan pemasangan plang, hingga memastikan papan informasi dapat terlihat dengan jelas dan mudah dibaca oleh masyarakat.
Salah seorang warga Dukuh Waruk Bapak Kasmidi menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, adanya plang informasi dapat membantu mengingatkan warga untuk lebih peduli terhadap sampah yang dihasilkan setiap hari.
“Menurut saya, plang ini cukup membantu karena warga jadi lebih mudah mengetahui sampah mana yang bisa dipilah dan dikumpulkan. Harapannya setelah ada plang ini, masyarakat semakin terbiasa memilah sampah dari rumah dan tidak membuang semuanya begitu saja,” ujarnya.
Bagi mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 28, kegiatan ini bukan sekadar memasang papan informasi, tetapi menjadi pemantik perubahan kebiasaan masyarakat. Edukasi mengenai sampah akan lebih mudah diterapkan apabila didukung dengan fasilitas dan informasi yang dapat ditemui setiap hari di lingkungan warga.
“Kami berharap adanya plang ini tidak hanya menjadi papan informasi, tetapi juga bisa mengingatkan warga untuk mulai membiasakan memilah sampah dari rumah. Memang langkahnya sederhana, tetapi kalau dilakukan bersama-sama secara konsisten, kami yakin bisa memberikan dampak yang baik bagi lingkungan,” ujar Bellian Figalis Nazarobika, selaku penanggung jawab program kerja Bank Sampah.
Dengan adanya pemasangan plang jenis sampah dan Bank Sampah, mahasiswa berharap masyarakat Dukuh Waruk semakin aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda: bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang masih dapat dikelola dan dimanfaatkan.
Dari satu plang tumbuh kesadaran. Dari satu kebiasaan lahir perubahan. Dukuh Waruk bergerak, sampah dipilah, lingkungan pun lebih terjaga. (*)

