Lingkungan akademik Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) kembali menjadi ruang perjumpaan mahasiswa dari dua negara. Lima mahasiswa dari Don Mariano Marcos State University (DMMSU), Filipina, datang ke UPGRIS untuk mengikuti program Sea-Teacher Batch 12 selama hampir satu bulan.
Kelima mahasiswa tersebut adalah Allyza Mae F. Agustin, Heaven Krysthel Bless R. Sacsac, Mark Angelo J. Calano, Vic Ranier A. Tamayo, dan Ilay Louise G. Bulong. Mereka mengikuti program yang berlangsung pada 2-29 September 2026.
Kehadiran mahasiswa Filipina tersebut menjadi bagian dari upaya UPGRIS memperluas pengalaman pembelajaran internasional. Melalui program Sea-Teacher, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal sistem pendidikan di negara lain. Selain itu juga sekaligus berinteraksi secara langsung dengan lingkungan akademik dan sosial di Indonesia.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama UPGRIS Prof. Dr. Nur Khoiri, S.Pd., M.T., M.Pd., mengatakan, program internasional merupakan bagian penting dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih luas kepada mahasiswa.
Menurutnya, pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui proses akademik di ruang kuliah. Pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa dan institusi pendidikan dari negara lain dapat menjadi bagian dari proses pembentukan kompetensi mahasiswa.
Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., mengatakan, mobilitas mahasiswa ke luar negeri maupun kedatangan mahasiswa asing ke UPGRIS memiliki arti penting bagi penguatan internasionalisasi universitas.
“Program seperti ini akan memberikan dampak bagi UPGRIS. Selain memperkuat internasionalisasi, ini juga menjadi pengalaman yang dapat menjadi bekal mahasiswa pada masa mendatang ketika mereka merancang karier,” ujar Sapto.
Kepala Kantor Urusan Internasional UPGRIS Dr. Nur Hidayat, M.Hum., mengatakan, kerja sama internasional yang dibangun UPGRIS telah memberikan kesempatan kepada banyak mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik di luar negeri. Kerja sama dengan DMMMC, Filipina, misalnya, telah memberangkatkan lebih dari 100 mahasiswa UPGRIS ke Filipina.
Kehadiran lima mahasiswa MMSU di UPGRIS menjadi bagian dari pola mobilitas dua arah tersebut. Jika sebelumnya mahasiswa UPGRIS memperoleh pengalaman belajar di luar negeri, kini lingkungan kampus juga menjadi tempat belajar bagi mahasiswa dari negara lain.
Pertukaran tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi program mobilitas mahasiswa. Lebih dari itu, interaksi lintas negara dapat membangun jejaring akademik, memperluas wawasan budaya, serta membuka peluang kerja sama pendidikan yang lebih luas antara UPGRIS dan perguruan tinggi mitra di masa mendatang. (*)

