Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) memperkuat sinergi dengan Universitas Negeri Semarang (Unnes) melalui kegiatan Sharing Session bertajuk “Tata Kelola Perguruan Tinggi Berdampak” di Kampus IV UPGRIS, lantai VI, Semarang, 19 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus upaya memperkuat kerja sama antarkedua perguruan tinggi. Terutama dalam mengembangkan tata kelola yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Kegiatan ini terselenggara atas inisiatif UPGRIS untuk membangun sinergi dengan sesama perguruan tinggi di Kota Semarang. Melalui forum tersebut, UPGRIS dan Unnes berbagi pengalaman mengenai pengelolaan perguruan tinggi, kepemimpinan, penerimaan mahasiswa baru, serta strategi membangun kampus yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas kelembagaan, tetapi juga menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo, S.H., M.H., mengatakan, kerja sama dengan Unnes memiliki nilai strategis bagi pengembangan kelembagaan UPGRIS. Menurutnya, kedua perguruan tinggi selama ini memiliki hubungan yang erat. Termasuk melalui alumni Unnes yang kemudian berkiprah sebagai dosen di UPGRIS.
“179 doktor berarti sebuah kekuatan. Hubungan terjalin sangat erat. Banyak alumni Unnes yang kemudian menjadi dosen di UPGRIS,” ujar Rektor dalam kegiatan tersebut.
Rektor mengatakan, keberadaan sumber daya manusia dengan kualifikasi akademik doktor menjadi modal penting bagi perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, sinergi antarkampus diperlukan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan saling berbagi praktik baik.
Sapto juga menyampaikan bahwa UPGRIS banyak belajar dari pengalaman Unnes, terutama dalam pengelolaan perguruan tinggi dan penerimaan mahasiswa baru. Pengalaman tersebut dinilai penting sebagai bahan pembelajaran bagi UPGRIS untuk terus melakukan pengembangan dan perbaikan tata kelola.
“Kita banyak berkiblat pada keberhasilan Unnes dalam pengelolaan dan penerimaan mahasiswa baru,” katanya. Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen formal. Kolaborasi perlu diterjemahkan ke dalam berbagai program yang dapat memberikan manfaat bagi sivitas akademika kedua universitas sekaligus masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, UPGRIS dan Unnes menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU). Penandatanganan dilakukan langsung oleh Rektor UPGRIS Dr. Sapto Budoyo dan Rektor Unnes Prof. Dr. S. Martono, M.Si.
MoU tersebut menjadi komitmen kedua universitas untuk membangun kerja sama secara berkelanjutan. Ruang kolaborasi diharapkan dapat mencakup berbagai bidang strategis sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing perguruan tinggi.
Sementara itu, Rektor Unnes Prof. Dr. S. Martono, M.Si., menekankan pentingnya kepemimpinan dalam pengelolaan perguruan tinggi. Menurut dia, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemimpin dalam menyatukan visi dan misi seluruh unsur organisasi.
“Soliditas menjadi salah satu kunci jalannya kepemimpinan di kampus. Pemimpin yang sanggup mengajak lari akan memengaruhi kinerja seluruh staf dan dosen yang dipimpinnya,” ujar Martono.
Ia menegaskan, kepemimpinan perguruan tinggi harus berorientasi pada perubahan. Keberhasilan tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari kemampuan lembaga menentukan prioritas dan mengarahkan sumber daya secara efektif.
“Kepemimpinan akan fokus pada perubahan. Tidak sekadar jumlah kegiatan. Pimpinan memantapkan prioritas, menyelaraskan sumber daya,” katanya.
Melalui sharing session dan penandatanganan MoU tersebut, UPGRIS dan Unnes berupaya membangun model kolaborasi yang lebih konkret. Sinergi antarkedua perguruan tinggi diharapkan mampu memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas kelembagaan, serta menghadirkan berbagai program yang memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat. (*)

